Selasa, 24 September 2013

PELAKSANAAN SL- PHT DI DESA EKANG ANCULAI KECAMATAN TELUK SEBONG KABUPATEN BINTAN





Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BPPKP) Kabupaten Bintan, mengadakan kegiatan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) untuk para petani  di kabupaten Bintan.  Kegiatan SL-PHT ini dilaksanakan dengan tujuan agar para petani memiliki pengetahuan dalam pengendalian hama terpadu  sehingga dengan berbekal pengetahuan tersebut mereka bisa dan mampu mengendalikan serangan hama  jika sekiranya nanti terjadi serangan hama dan penyakit di lahan pertanian mereka masing-masing.
Untuk acara  pembukaan kegiatan SL-PHT  ini dilakukan di kantor Desa Toapaya Utara , Kecamatan Toapaya, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Kemudian untuk kegiatan selanjutnya dilaksanakan di lapangan  di lahan milik petani yaitu di Kecamatan Toapaya, Kecamatan Teluk Sebong dan Kecamatan Bintan Timur.
Kegiatan SL-PHT ini dilaksanakan pada tanggal 11 April – 6 Juni 2013 , dimana untuk kegiatan lapangan dilaksanakan selama 8 kali pertemuan.  Kegiatan SL-PHT ini di buka oleh Bapak Ir. Jhon Kenedi, Kepala Bidang Kelembagaan dan Pengembangan SDM pada BPPKP Kabupaten Bintan dan juga dihadiri oleh Bapak Wagino, Kepala Seksi Perlindungan Tanaman pada Dinas Pertanian  dan Kehutanan Kabupaten Bintan , dan juga dihadiri oleh para Penyuluh Pertanian Lapangan di lingkungan BPPKP Kabupaten Bintan. Sementara itu para pesertanya berjumlah 75  orang  berasal dari petani – petani yang ada di Kabupaten bintan .
Tujuan Pelaksanaan  SL-PHT adalah pendekatan dalam pengelolaan lahan, air, tanaman, organisme pengganggu tanaman (OPT), dan iklim secara terpadu dan berkelanjutan dalam upaya peningkatan produktivitas, pendapatan petani, dan kelestarian lingkungan. Prinsipnya , a. SL-PHT mencakup empat unsur, yaitu integrasi, interaksi, dinamis dan partisipatif. b. SL-PHT mengintegrasikan sumber daya lahan, air, tanaman, OPT, dan Iklim untuk mampu meningkatkan produktivitas lahan dan tanaman sehingga dapat memberikan manfaat yang sebesar- besarnya bagi petani.
Komponen teknologi dasar adalah komponen teknologi yang relative dapat berlaku umum di wilayah yang luas, antara lain, a. Varietas modern Varietas Unggul baru(VUB), Varietas Unggul hibrida (VUH), dan Varietas Unggul Tipe Baru (VUTB) b. Bibit bermutu dan sehat (perlakuan benih) c. Pemupukan efisien menggunakan Bagan Warna Daun (BWD), d. Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK) tentang pemupukan spesifik lokasi. e. PHT sesuai OPT sasaran .
Agar komponen teknologi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan setempat, maka proses pemilihannya  didasarkan pada hasil analisis potensi, kendala, dan peluang atau dikenal dengan PRA (Participatory Rural Apraisal) Dari PRA teridentifikasi masalah yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi, baik dari komponen teknologi dasar maupun pilihan. Komponen teknologi pilihan dapat menjadi komponen teknologi dasar jika hasil PRA memprioritaskan penerapan teknologi tersebut untuk pemecahan masalah utama di wilayah setempat.
Definisi SL-PHT adalah bentuk sekolah yang seluruh proses belajar – mengajarnya dilakukan di lapangan . Hamparan kebun milik petani peserta program penerapan SL  disebut hamparan SL-PHT, sedangkan hamparan kebun tempat praktek SL disebut Laboratorium Lapang (LL). Sekolah Lapang seolah – olah menjadikan petani peserta sebagai murid dan Pemandu Lapang (PL I atau PL II) sebagai guru.
Namun pada Sekolah Lapang tidak dibedakan antara guru dan murid, karena aspek   kekeluargaan lebih diutamakan, sehingga antara guru dan murid saling memberi pengetahuan. SL-PHT juga mempunyai kurikulum, evaluasi Pra dan Pasca kegiatan, dan sertifikat. Bahkan sebelum  SL-PHT dimulai perlu dilakukan registrasi terhadap peserta yang mencakup nama dan luas lahan kebun garapan, pembukuan , dan studi banding atau kunjungan lapangan (field trip) . Tujuan Utama SL-PHT adalah mempercepat alih teknologi melalui pelatihan dari peneliti atau nara sumber lainnya. Narasumber memberikan ilmu dan teknologi (IPTEK) yang telah dikembangkan kepada pemandu lapang. Melalui SL-PHT diharapkan terjadi percepatan ,penyebaran teknologi dari  peneliti ke petani peserta dan kemudian berlangsung difusi (penyebaran)  secara alamiah dari alumni SL-PHT kepada petani di sekitarnya.
Oleh karena itu petani peserta SL-PHT akan menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk menerapkan teknologi di lapangan dan hanya sebagian kecil waktu yang digunakan di kelas untuk membahas aspek yang terkait dengan usaha tani, seperti koperasi, gapoktan, kelompok tani dan pemasaran hasil. Sesuai dengan motto petani SL-PHT ”Mendengar, Saya lupa; melihat, saya ingat; melakukan, saya paham; menemukan sendiri, saya kuasai” maka setiap kegiatan yang di lakukan sendiri akan memberikan pengalaman yang berharga. Oleh karena itu, petani dituntut untuk mampu menganalisis kegiatan yang telah dilakukan, kemudian menyimpulkan dan menindak lanjutinya. kesimpulan yang telah dibuat merupakan dasar dalam melakukan perubahan dan atau pengembangan teknologi.
Pengkajian agroekosistem kebun SL-PHT dicirikan dengan adanya pertemuan petani peserta dalam periode tertentu, mingguan atau dua mingguan, bergantung kepada pengalaman mereka setelah mengamati perubahan ekosisitem pekebunan. Aktivitas minggun berupa monitoring yang hasilnya diperlukan dalam pengambilan keputusan. Untuk itu petani peserta SL-PHT perlu didorong untuk membiasakan diri menganalisis ekosisten dan mengkaji produktifitas dan efektivitas teknologi yang dicoba pada petak laboratorium lapang dan menerapkannya di lahan sendiri . Metode belajar praktis Aktifitas SL-PHT perlu dirancang sedemikian rupa agar petani mudah memahami masalah yang dihadapi dilapangan dan menetapkan teknologi yang akan diterapkan untuk mengatasi masalah tersebut. Misalnya , bagai mana petani mengetahui kondisi tanaman yang kurang pupuk, hubungan antara iklim dan keberadaan OPT, atau bagai mana mereka dapat mengetahui kesuburan tanah. Dalam memberikan panduan dan motivasi kepada petani, pemandu SL-PHT harus mampu berkomunikasi dengan baik menggunakan bahasa yang mudah dipahami petani.
 Kurikulum dirancang atas dasar analisis keterampilan yang perlu dimiliki petani SL-PHT agar mereka dapat memahami dan menerapkan SL-PHT di lahan sendiri dan mengembangkannya kepada petani lainnya. Selain keterampilan teknis, petani peserta SL-PHT juga memperoleh kecakapan dalam perencanaan kegiatan, kerja sama, dinamika kelompok, pengembangan materi belajar, dan komunikasi. Hal ini penting artinya mampu memotivasi dan membantu kelompok tani. Prinsip Pendidikan dalam SL-PHT Agar tujuan dapat tercapai sesuai dengan keinginan, SL-PHT hendaknya dilaksanakan berdasarkan pengalaman sendiri. Untuk itu materi pendidikan yang akan diberikan dalam SL-PHT mencakup Aspek yang diperlukan oleh kelompok tani di wilayah pengembangan SL-PHT. (Oleh : Syahrinaldi, Penyuluh Pertanian Pada BPPKP Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar