Selasa, 25 Juni 2019

Pasca Panen Tanaman Jagung



Memanen pada saat yang tepat merupakan hal yang cukup penting guna mempertahankan kualitas dan kuantitas hasil jagung. Umur panen jagung sangat tergantung dari varietas yang digunakan serta tinggi tempat jagung ditanam, dalam arti bahwa makin tinggi tempat maka umur panen akan l ebih lam. Umur panen jagung berkisar antara 80 - 140 hari. Tanda-tanda umum saat panen jagung yang tepat atau siap dipanen ditandai dengan terbentuknya lapisan hitam di ujung biji dan kulit tongkol (klobot) berwarna kuning mengering, biji tampak mengkilat dan bila ditekan dengan kuku biji jagung tersebut tidak berbekas. Panen dilakukan dengan cara memetik.
 
Penanganan Pasca Panen
Penanganan pasca panen jagung meliputi serangkaian kegiatan pengupasan, pengeringan, sortasi, pemipilan dan penyimpanan.

Pengupasan
Jagung hasil panen masih terbungkus klobot. Untuk itu, setelah dipanen, sebaiknya jagung segera dikupas dan dibersihkan dari rambut. Pengupasan ini bertujuan agar kadar air tongkol jagung menurun sehingga terhindar dari pertumbuhan jamur pada tongkol dan biji jagung yang baru dipanen. Selain itu, pengupasanpun dapat mempercepat proses pengeringan. Namun, ada pula petani yang mengupas jagung dengan menyisakan kelobotnya sebagai pengikat saat proses pengeringan.

Pengeringan Tongkol Jagung
Prinsip pengeringan adalah mengeluarkan air dari bahan sampai tercapai kadar air yang aman untuk disimpan. Sementara tujuan utama pengeringan adalah untuk mencegah kerusakan. Beberapa keuntungan melakukan pengeringan adalah meningkatkan daya simpan, mempertahankan viabilitas benih, menambah nilai ekonomis, memudahkan pengolahan lebih lanjut, serta memudahkan dan mengurangi biaya transportasi.
Berdasarkan sumber energinya, pengeringan pada jagung dapat dibedakan menjadi pengeringan alami dan pengeringan buatan.

a. Pengeringan alami
Pengeringan alami merupakan pengeringan yang dilakukan dengan bantuan sinar matahari (penjemuran). Cara pengeringan ini cukup mudah dan biayanya murah. Namun, kendalanya adalah jika cuaca tidak memungkinkan maka proses pengeringan akan berlangsung tidak sempurna dan memerlukan waktu lama. Pengeringan pada musim hujan memakan waktu 7-14 hari dan pada musim kemarau antara 3-7 hari.

Agar diperoleh hasil pengeringan yang baik, sebaiknya disediakan areal pengeringan yang cukup luas. Hal ini dikarenakan jagung yang akan dikekringkan tidak boleh ditumpuk. Teknis penjemuran dapat dilakukan pada lantai jemur, alas anyaman bambu, tikar, atau dengan cara digantung untuk tongkol yang masih ada kelobotnya. Pengeringan di lantai jemur sering menghasilkan biji retak.

Selain dengan cara dijemur di panas matahari, ada sebagian petani yang melakukan pengeringan denga cara diasap. Cara pengeringan ini biasanya dilakukan di para-para diatas dapur. Untuk mengeringkan jagung dalam jumlah banyak, cara pengeringan ini kurang efektif diterapkan, kecuali kalau sumber asapnya dibuat khusus seperti dari pembakaran sekam, tongkol jagung, kayu, atau bahan yang lain.

Pengeringan tongkol jagung dilakukan hingga kadar air mencapai 17-20%. Pada kadar air ini, jagung mudah dipipil tanpa menimbulkan banyak kerusakan.

b. Pengeringan buatan
Pengeringan buatan adalah pengeringan yang dilakukan dengan bantuan alat mekanis. Penerapan cara ini untuk mengantisipasi kalau terjadi hari hujan terus menerus. Beberapa jenis alat pengering yang biasa digunakan adalah omprongan, alat pengering dengan aerasi, dan alat pengering tipe continuous.

Sortasi
Sortasi dilakukan untuk memisahkan tongkol jagung yang berukuran besar dengan yang kecil, berbiji rapat dengan jarang atau rusak, berwarna seragam putih atau kuning dengan yang tidak seragam, serta sudah masak dengan belum masak. Untuk memisahkan biji yang berukuran besar dan kecil dapat dilakukan setelah pemipilan.

Pemipilan
Salah satu kegiatan yang kritis dalam penanganan pascapanen di tingkat petani adalah pemipilan karena kehilangan hasil pada tahap ini dapat mencapai 4%.
Pemipilan merupakan kegiatan melepaskan biji dari tongkol, memisahkan tongkol, dan memisahkan kotoran dari jagung pipilan. Tujuannya adalah untuk menghindarkan kerusakan, menekan kehilangan, memudahkan pengangkutan, dan memudahkan pengolahan selanjutnya. Oleh karenanya, sebaiknya pemipilan dilakukan pada saat yang tepat, yaitu saat kadar air jagung berkisar 17-20%. Penjemuran dalam bentuk pipilan memakan waktu 2-4 hari pada musim hujan dan 1-2 hari pada musim kemarau.
 
Pemipilan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara tradisional dan bantuan alat.
a. Pemipilan secara tradisional
Petani di pedesaan masih banyak memipil jagung secara tradisional, yaitu dengan menggunakan tangan. Dengan cara ini, kapasitas pipilnya hanya sekitar 10-2- kg/jam. Meskipun kapasitasnya kecil, namun cara pemipilan ini cukup efektif dalam memisahkan tongkol dengan kotoran lain. Selain itu, kerusakan yang ditimbulkan relative kecil.
  Selain dengan tangan, pemipilan tradisional yang lain adalah pemukulan jagung pada karung dengan tongkat. Kapasitas pipilan jagung pada cara ini dapat ditingkatkan, tetapi kerusakan mekanis yang ditimbulkan lebih besar. Kerugian lainnya adalah biji yang hilangpun meningkat karena banyak yang tertinggal pada tongkol.

b. Pemipilan dengan alat.
Pemipilan jagung dengan bantuan alat dapat dilakukan baik dengan alat sederhana maupun bermesin. Pemipilan dengan alat bermesin umumnya dilakukan petani dengan cara menyewa mesin pemipil jagung yang dioperasikan di lahan penanaman atau dirumah-rumah petani. Kapasitas pemipilan cara ini mencapai 1-2 ton/jam.

Berbagai tipe alat pemipil yang tersedia di pasaran diantaranya Kikian, Pemipil tipe Sulawesi Utara, Pemipil Sederhana tipe silinder, pemipil tipe mungil, pemipil tipe ban, dll.  (Oleh : Syahrinaldi, DKPP Kab. Bintan, Kepulauan Riau ) Sumber : cybex pertanian.go.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar