Minggu, 23 Juni 2019

Penyiapan Lahan Tanaman Kedelai

                        
Tanaman kedelai dapat tumbuh diberbagai kondisi jenis tanah yang berbeda. Hal ini dapat ditunjukkan dari adanya perlakuan yang berbeda dalam penyiapan lahan pada pertanaman kedelai. Penyiapan lahan untuk tanaman kedelai sangat ditentukan oleh kondisi tanah sebelum penanaman. Pengolahan lahan di tanah kering/ tanah tegalan atau tanah sawah tadah hujan berbeda perlakuannya dengan tanah sawah. Pada dasarnya kedelai menghendaki kondisi tanah yang tidak terlalu basah, tetapi air harus tetap tersedia.
Oleh karena itu di tanah tegalan, kedelai ditanam pada awal dan pertengahan musim hujan, sehingga penyiapan lahannya sebelum musim hujan. Demikian juga pada tanah sawah tadah hujan, kedelai ditanam pada pertengahan atau akhir musim hujan, sehingga penyiapan lahan dilakukan sebelumnya.

Pengolahan tanah pada dasarnya bertujuan untuk mematikan gulma, menggemburkan tanah sehingga benih mudah tumbuh, pertumbuhan kecambah dan akar tanaman dapat berkembang sempurna. Melalui pengolahan, tanah akan menjadi gembur dan aerasi tanah jadi lebih baik. Kondisi ini sangat menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Selain itu pengolahan tanah juga dapat mencegah pertumbuhan penyakit di dalam tanah.

Penyiapan Lahan,
Lahan yang dipersiapkan pada tanaman kedelai harus tidak tergenang air, menghendaki kondisi tanah yang tidak terlalu basah namun masih cukup lembab.Oleh karena itu areal lahan tanam kedelai umumnya berbentuk bedengan. Ada 2 cara mempersiapkan lahan pada tanaman kedelai yakni persiapan tanpa pengolahan tanah (ekstensif) pada lahan sawah, lahan pasang surut dan persiapan dengan pengolahan tanah (intensif) pada lahan kering/ tanah tegalan.

Penyiapan Lahan Kering.
Pada umumnya penyiapan lahan untuk tanah kering dilakukan 1 - 2 bulan sebelum hujan turun. Pengolahan tanah dilakukan dengan tanah dicangkul/ dibajak/ ditraktor sedalam 5 - 10 cm sebanyak 2 kali. Pada cangkulan 1 biarkan bongkahan terangin-angin selama 5 - 7 hari. Pencangkulan ke 2 sekaligus digemburkan, dibersihkan dari gulma dan diratakan. Biarkan tanah yang telah diolah selama 3 - 4 minggu, untuk memperoleh struktur tanah yang baik.

Dianjurkan untuk melaksanakan pengapuran setelah tanah diolah untuk menghindari tanah menjadi masam atau ber pH rendah. Karena dengan tanah yang masam atau pH rendah maka tanaman yang tumbuh diatasnya sering dihinggapi bermacam-macam gangguan seperti daun rontok, tanaman kerdil. Pengapuran dapat menggunakan dolomit, dengan cara menyebar rata sebanyak dosis 1,5 ton/ ha. Jika ditambah pupuk kandang 2,5 ton/ha, dosis kapur dapat dikurangi menjadi 750 kg/ha.

Selain itu perlu dibuat saluran pembuangan air sehingga tidak terjadi genangan air di dalam petakan agar biji yang baru tumbuh tidak busuk atau mati.

Penyiapan Lahan Sawah / Lahan Pasang Surut
Apabila menanam kedelai pada tanah sawah, tanah tidak perlu diolah, hanya yang perlu dilakukan adalah membersihkan tanah sawah dari gulma dan sisa-sisa jerami hasil panen padi. Kemudian jerami padi dibabat dan dihamparkan serta dibiarkan selama 3 hari agar kering. Setelah itu dibakar. Dua minggu setelah jerami dibakar, lahan disemprot dengan herbisida.

Selanjutnya dibuatkan saluran pembuangan air (drainase) setiap 3 - 4 meter, sedalam 25 - 30 cm, lebar 20 - 25 cm. Pembuatan saluran drainase ini untuk mencegah terjadinya penggenangan air, karena tanaman kedelai tidak tahan terhadap genangan air yang menyebabkan benih menjadi busuk.

Penyiapan lahan pada pertanaman kedelai pada musim kemarau (setelah tanaman padi kedua) setelah tanaman kedelai I dipanen, cukup dilakukan pembersihan gulma. Tapi lebih baik lagi jika dilakukan pengolahan lahan yang minimal ( dicangkul 1 kali). Sedang penyiapan lahan untuk penanaman kedelai pada musim hujan atau bila lahan yang akan digunakan banyak tumbuh gulma, maka dilakukan dengan pengolahan tanah (intensif). Selain diolah, pada hari ke 3 - 5 sebelum tanah diolah dilakukan penyemprotan herbisida untuk mencegah pertumbuhan penyakit dalam tanah.
(Oleh : Syahrinaldi, DKPP Kab. Bintan, Kepulauan Riau) 
Sumber : cybex pertanian.go.id 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar