Minggu, 14 Juli 2019

Pengendalian OPT Bawang Merah Secara Organik




Pengendalian hama dan penyakit merupakan kegiatan yang penting karena dalam sistem organik tidak dibolehkan memakai pestisida kimia.

1. Ulat grayak
Ulat grayak termasuk ulat pemakan segala macam tanaman. Ulat yang masih muda berwarna hijau rumput, setelah tua berwarna hijau atau coklat tua dengan garis kekuningan. Panjang ulat sekitar 25 mm, biasanya ulat masuk ke dalam daun, kemudian memakan dagingnya sehingga kelihatan ada bercak putih panjang (seperti membran). Serangga yang hebat dapat menyebabkan tanaman layu dan akhirnya mati. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengatasi serangan ulat grayak, sebagai berikut:
a. Secara mekanis, pada malam hari dilakukan penangkapan ulat dan telurnya, kemudian ulat dan telur dimatikan.
b. Dilakukan rotasi tanaman.
c. Bila ditanam di sawah, lahan perlu digenangi selama 24 jam agar pupa mati.

2. Kutu thrip
Thrips tabaci, banyak menyerang tanaman bawang merah, cabai, tomat, bayam, dan labu. Serangan menghebat terjadi bila jarang hujan dan temperatur tinggi. Hama ini akan aktif berkembang bila kelembaban relatif sekitar 70%. Larva dan trip dewasa akan mengisap cairan daun sehingga daun kelihatan berbercak putih. Bercak-bercak putih akan bersatu dan berwarna seperti perak, akhirnya daun akan mati dan kering. Bila terganggu, trip ini akan bersembunyi di dalam tanah atau di pelepah daun. Beberapa cara mengendalikan serangan trip:
a. Apabila ditanam di sawah, lahan digenangi terlebih dahulu untuk mematikan pupa yang ada di dalam tanah.
b. Dilakukan rotasi dengan tanaman yang tidak diserang trip.
c. Penanaman sebaiknya dilakukan pada September (peralihan musim kemarau dan musim penghujan).
d. Lingkungan kebun perlu dibersihkan dari gulma.
e. Tanaman yang telah terserang trip disemprot dengan insektisida alami.

3. Nematoda umbi
Ditylenchus dipsaci, merupakan nematoda yang menyerang umbi bawang merah, bawang putih, dan bawang bombay. Serangan nematoda ini ditandai dengan gejala daun bawang menjadi pucat, lemah (terkulai), ujung mati, dan berpilin. Serangan pada saat umbi mulai membesar, umbi menjadi lunak dan bertepung. Serangan dalam penyimpanan mengakibatkan umbi menjadi ringan dan agak gembung. Bila lingkungan kurang mendukung, nematoda akan dorman (istirahat) dalam waktu yang lama di dalam tanah atau tanaman yang telah mati.

Nematoda dapat dicegah dan dikendalikan dengan berbagai cara berikut:
a. Tanamlah umbi atau biji yang sehat dan bebas nematoda;
b. Pilihlah lokasi (tanah) yang sehat dan belum pernah terserang nematoda umbi batang atau batang;
c. Tanamlah kenikir sebelum menanam bawang merah. Setelah berbunga, kenikir dicabut dan dipotong kecil, lalu dipendam secara merata. Kenikir dapat mengeluarkan tiophen yang dapat mematikan nematoda.

4. Penyakit pucuk daun
Penyakit pucuk daun disebabkan oleh Phytophora porri. Serangan penyakit ini ditandai dengan permukaan ujung daun yang kelihatan basah, kemudian akan mengering dan warna menjadi kuning kecokelatan, lalu menjadi putih. Jika udara lembab akan terbentuk massa jamur seperti beludru. Massa jamur semakin lama akan menyebar sehingga daun mati berwarna putih dan akhirnya tanaman mati. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu:
a. Menanam pada saat tidak banyak hujan.
b. Pucuk daun yang terserang segera dipotong dan dibakar;
c. Tangan yang memegang tanaman yang sakit jangan memegang tanaman sehat agar tidak tertular; dan
d. Dilakukan rotasi tanaman.

5. Penyakit embun bulu
Penyebab penyakit embun bulu adalah jamur Peronosporus destructor. Penyakit ini juga disebut busuk daun bulu halus, embun tepung, tepung palsu. Bila banyak embun dan udara berkabut atau banyak hujan, penyakit ini semakin berkembang.
Penyakit embun bulu diawali dengan terlihatnya bulu-bulu halus berwarna ungu yang menutupi permukaan daun. Bagian daun yang sakit akan berwarna hijau pucat, lalu berubah kuning. Serangan yang hebat dapat merobohkan tanaman. Umbi yang terinfeksi menjadi lunak dan mengerut serta lapisan luarnya berwarna kecoklatan.

Upaya pengendalian penyakit embun bulu dilakukan sebagai berikut:
a. Jangan menanam bawang merah di daerah yang banyak hujan, kabut dan embun;
b. Bibit yang digunakan harus sehat dan telah dipanasi dengan suhu 410 C selama 4 jam;
c. Tanaman ditanam dengan barisan disesuaikan arah berhembus angin;
d. Apabila telah terserang, daun dipotong lalu dikumpulkan dan dibakar. Apabila umbi telah terinfeksi, tanaman dicabut dan dibakar;
e. Saluran drainase harus dibuat dan dirawat dengan baik; dan
f. Lakukan rotasi tanaman.  (Oleh : Syahrinaldi, DKPP Kab. Bintan, Kepulauan Riau) Sumber : cybex pertanian.go.id 



Mengawetkan Bawang Merah




Bawang merah termasuk dalam keluarga liliaceae, yang mempunyai ciri berumbi lapis, berakar serabut dan berbentuk daun silindris. Umbi lapis tersebut berasal dari pangkal daun yang bersatu dan membentuk batang-batang semu serta berubah bentuk dan fungsinya.  Kandungan gizi bawang merah bukanlah merupakan sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin, atau mineral, karena komponen-komponen tersebut hanyalah sedikit jumlahnya. Komponen lainnya yang adadiantaranya adalah minyak atsiri yang berfungsi sebagai pengawet. Komponen inilah yang sebenarnya digunakan untuk penyedap makanan, bakterisida, fungisida dan berkhasiat untuk obat-obatan.

Dalam rangka menghemat pengeluaran, sering kita membeli bawang merah dalam jumlah banyak. Namun karena bawang merah merupakan produk hortikultur yang mudah busuk, maka pembelian dalam jumlah banyak sering menyebabkan kerugian karena terjadi pembusukan. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan upaya agar bawang merah yang kita simpan dapat awet dan dapat dimanfaatkan dalam waktu yang panjang..

Ada beberapa trik yang dapat dilakukan agar bawang yang kita simpan dapat awet. Pertama-tama yang harus kita perhatikan adalah bagaimana memilih jenis bawang yang dapat awet bila disimpan. Pilihlah bawang merah dengan bau yang tajam. Bawang merah dengan bau yang ringan tidak dapat diawetkan dengan baik. [ Bawang merah dengan bau yang tajam memiliki ukuran yang lebih kecil dan cenderung memiliki kulit yang kuat. Saat dipotong, lingkaran cincin lebih tipis dan akan membuat mata kita mulai berair karena adanya senyawa sulfur, yang juga akan memperlambat prases pembusukan. Kelembaban yang terlalu tinggi disertai suhu tinggi dapat menyebabkan terjadinya pembusukan umbi bawang atau tumbuhnya tunas. Suhu yang baik untuk menyimpan bawang merah adalah 30-340C dan kelembapan sekitar 65-75%.

Selain dengan memilih jenis bawang, upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan perendaman dalam alcohol. Perendaman ke dalam larutan alcohol, dapat menyebabkan bawang merah menjadi awet, yaitu dapat .bertahan hingga enam bulan. Untuk itu maka perendaman bawang merah ke dalam alcohol dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk mengawetkan bawang merah.

Prosedur yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Perendaman dalam larutan alcohol 96%.
Alkohol mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri pada bawang merah, sehingga perendaman bawang merah ke dalam alcohol dapat menghambat pembusukan. Lama perendaman yaitu satu jam, karena perendaman yang lebih lama akan mengakibatkan bawang merah menjadi jenuh dengan alkohol yang digunakan sebagai pembunuh bakteri;

2. Dikeringkan menggunakan sinar matahari.
Bawang merah yang disimpan harus cukup kering, kira-kira kadar air 80-88%.Suhu yang baik untuk menyimpan bawang merah adalah 30-340C dan kelembapan sekitar 65-75%. Bawang merah yang disimpan harus cukup kering, kira-kira kadar air 80-88%, ruangan gudang harus bersih dan tidak lembab. Kelembaban yang terlalu tinggi disertai suhu tinggi dapat menyebabkan terjadinya pembusukan umbi bawang atau tumbuhnya tunas. Suhu yang baik untuk menyimpan bawang merah adalah 30-340C dan kelembapan sekitar 65-75%.;

3. Dikemas menggunakan karton dan ditutup rapat. Untuk bawang merah, kemasan karton lebih baik dibandingkan kemasan plastic karena pertumbuhan bakteri yang relatif lambat dibandingkan pertumbuhan bakteri pada bawang merah yang dibungkus dengan plastik. Hal ini disebabkan oleh sifat higroskopis yang mampu menyerap air dari udara sekitar pori-pori karton karena kadar air lebih rendah daripada karton pembungkus. Untuk itu maka karton dapat digunakan sebagai alternatif pengemasan bawang merah yang lebih menarik, awet, ramah lingkungan dan tidak menimbulkan dampak yang merugikan bagi manusia;

4. Kardus disimpan dalam ruangan dengan suhu 30-31 derajat C. ruangan gudang harus bersih dan tidak lembab. Kelembaban yang terlalu tinggi disertai suhu tinggi dapat menyebabkan terjadinya pembusukan umbi bawang atau tumbuhnya tunas.  (Oleh : Syahrinaldi, DKPP Kab. Bintan, Kepulauan Riau) Sumber : cybex pertanian.go.id 

Teknologi Produksi Bawang Merah




Bawang merah terdiri dari bunga majemuk berbentuk tandan yang bertangkai dengan 50-200 kuntum bunga. Pada ujung dan pangkal tangkai mengecil dan di bagian tengah menggembung, bentuknya seperti pipa yang berlubang di dalamnya. Tangkai tandan bunga ini sangat panjang, lebih tinggi dari daunnya sendiri dan mencapai 30-50 cm.

Bunga bawang merah termasuk bunga sempurna yang tiap bunga terdapat benang sari dan kepala putik. Bakal buah sebenarnya terbentuk dari 3 daun buah yang disebut carpel, yang membentuk tiga buah ruang dan dalam tiap ruang tersebut terdapat 2 calon biji.Buah berbentuk bulat dengan ujung tumpul. Bentuk biji agak pipih. Biji bawang merah dapat digunakan sebagai bahan perbanyakan tanaman secara generatif.

Bawang merah mengandung vitamin C, kalium, serat, dan asam folat. Selain itu, bawang merah juga mengandung kalsium dan zat besi. Bawang merah juga mengandung zat pengatur tumbuh alami berupa hormon auksin dan giberelin. Kegunaan lain bawang merah adalah sebagai obat tradisional, bawang merah dikenal sebagai obat karena mengandung efek antiseptik dan senyawa alliin. Senyawa alliin oleh enzim alliinase selanjutnya diubah menjadi asam piruvat, amonia, dan alliisin sebagai anti mikoba yang bersifat bakterisida.

Bawang merah dapat ditanam dan tumbuh dengan baik bila tanahnya subur, banyak humus (gembur), tidak tergenang air, beriklim kering dengan suhu agak panas dan mendapat sinar matahari lebih dari 12 jam.dan aerasinya baik  Selain itu dapat tumbuh mulai dari ketinggian 0 - 1000 meter diatas permukaan laut curah hujan 1000 - 1500 mm/th dan dapat tumbuh pada tanah sawah atau tegalan, tekstur sedang sampai liat. Jenis tanah Alluvial, Glei Humus atau Latosol, pH tanah dijaga antara 5.6 - 6.5.

jika pH-nya terlalu asam (lebih rendah dari 55),maka garam alumunium (AL) larut dalam tanah, garam tersebut akan bersifat racun terhadap tanaman bawang hingga tumbuhnya menjadi kerdil. Jika pH-nya lebih dari 65 (netral sampai basa), unsur mangaan (Mn) tidak dapat dimanfaatkan hingga umbi-umbinya menjadi kecil. kelembaban 50 -70 %, suhu 25-320 C.

Penggunaan Benih Bawang Merah
Penggunaan benih bersertifikat merupakan kunci utama untuk menghasilkan produk bawang merah yang berkualitas dan mampu beradaptasi dengan lingkungan untuk menjamin pertumbuhan tanaman yang baik, hasil nya tinggi dan kualitas baik serta diterima pasar.

Keuntungan penggunaan benih unggul:
1. Benih tumbuh cepat dan serempak.
2. Jika ditanam akan menghasilkan bibit yang tegar dan sehat
3. Pada saat ditanam, bibit tumbuh lebih cepat.
4. Jumlah tanaman optimum, sehingga akan memberikan hasil yang tinggi.

Cara mendapatkan benih Bawang Merah & Penggunaan Benih Bermutu Bawang Merah
Benih Bawang Merah dapat dibuat sendiri atau membeli langsung ke toko - toko pertanian/ penangkar benih terdekat. Benih bawang merah yang diusahakan dibeberapa daerah sentra produksi bisa didapat dari umbi maupun dari biji.
Penggunaan Benih bermutu merupakan syarat mutlak dalam budidaya bawang merah. Varietas bawang merah yang sudah dilepas antara lain : Tiron, Bima,Brebes, Ampenan, Medan,Keling, Maja Cipanas bisa mencapai 24,9 ton/hektar (ha), Varietas Kuning sekitar 6-21,39 ton/ha, Batu Ijo 18,5 ton/ha dan Tinombo 11,7 ton/ha, Sumenep, Timor, Lampung, Banteng dan varietas lokal lainnya.

Klasifikasi Benih bermutu Bawang Merah
Tanaman biasanya dipanen cukup tua antara 60 - 80 hari, telah diseleksi dilapangan dan ditempat penyimpanan. Umbi yang digunakan untuk benih adalah berasal dari umbi tanaman bawang merah yang telah tua,berukuran sedang, berdiameter 1,5 - 2 cm dengan bentuk simetris dan telah disimpan 2-4 bulan, telah mulai bertunas ditandai dengan munculnya warna hijau jika sepertiga bagian umbi lapis dipotong melintang, telah menunjukkan munculnya akar-akar baru pada umbi, pada warna umbi terlihat lebih mengkilap, bebas dari organisme penganggu tanaman.
  Kebutuhan bibit dari umbi untuk keperluan penanaman 1 Ha sebanyak 1.000 kg. (Oleh : Syahrinaldi, DKPP Kab. Bintan, Kepulauan Riau) Sumber : cybex pertanian.go.id 

Pengelolaan Bangsal Pasca Panen




Pengelolaan bangsal pascapanen (packing house) sayuran harus berpedoman pada aspek efisiensi dan efektivitas, sehingga kriteria pola pengelolaan yang baik diukur dengan manfaat maksimal yang diterima oleh setiap pelaku usaha dengan kontribusi mereka. Keberhasilan pola pengelolaan packing house pada dasarnya akan ditentukan oleh faktor dari dalam dan luar.

Faktor dari dalam, antara lain berupa pelaksanaan sistem manajemen, keterampilan pengelola serta kemampuan pembiayaan. Sedangkan faktor dari luar antara lain berupa pembinaan, baik dari Dinas Pertanian kabupaten/kota maupun dari provinsi, perangkat peraturan pemerintah, akses terhadap pasar dan promosi.

Oleh karena itu, pengelolaan bangsal panen ini ditekankan pada organisasi pengelolaan dan dukungan pengelolaan, yaitu:

1. Organisasi Pengelolaan
Pengelolaan packing house, dapat dilakukan oleh gapoktan/kelompoktani, asosiasi. sedangkan packing house dengan, pengelolaannya dapat diserahkan kepada manajemen swasta yang profesional komersial dengan menetapkan peraturan jasa dan tataniaga oleh pemda dan stakeholders. Peranan pemda, yang dalam hal ini Dinas Pertanian kabupaten/kota turut menentukan pengelolaan packing house atas dasar pertimbangan bisnis dan efisiensi.

Struktur organisasi pengelolaan packing house dapat berdiri sendiri, yang merupakan kesepakatan dari kelembagaan pengelola di bawah binaan Dinas Pertanian kabupaten/kota.

Bagi daerah yang mempunyai Sub Terminal Agribisnis atau Pasar Tani, memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing sebagai berikut:
a. Manajer, bertanggungjawab mengatur semua kegiatan mulai dari perencanaan pengadaan jasa, barang modal dan bahan baku, penanganan dan perlakuan, hingga pemasaran serta pengelolaan dan keuangan;
b. Bagian Administrasi dan Keuangan, bertanggungjawab terhadap urusan administrasi, kepegawaian dan keuangan termasuk kelengkapan kantor;

c. Bagian Pengadaan, menjalin kerjasama dengan mitra petani, pemasok, mengatur pola pasokan, mencari jasa sortasi dan pengemasan, menjalin kerjasama dengan supermarket, pengecer, dan mitra pemasaran lainnya. Bagian ini juga bertanggungjawab untuk penyediaan dan pengadaan barang yang akan dipasarkan; dan
d. Penanganan dan Mutu, bertanggungjawab terhadap penanganan bahan baku di dalam packing house, mulai dengan produk penerimaan produk, menjalani proses sortasi dan pengemasan, menentukan jenis dan ukuran kemasan, penyimpanan, hingga siap dipasarkan dan didistribusikan.

Selain itu, juga bertanggungjawab dalam penerapan standar mutu sesuai permintaan, yaitu:
a. Bagian Perlengkapan, bertanggungjawab terhadap peralatan dan mesin serta perawatannya, bahan-bahan kemasan, gudang pendingin dan kebutuhan lainnya; dan
b. Bagian Jasa dan Pemasaran, bertanggungjawab untuk pengelolaan dan informasi yang berkaitan dengan kegiatan pemasaran dan transportasi.

2. Pencatatan dan Penelusuran Balik
a. Sistem Pencatatan
Pelaku usaha penanganan pascapanen harus melaksanakan pencatatan (recording) terhadap aktivitas penanganan pascapanen.Catatan tersebut disimpan dengan baik minimal 3 (tiga) tahun, antara lain berisi (a) nama perusahaan/kelompok usaha, (b) alamat perusahaan/usaha, (c) kegiatan dan metoda penanganan pascapanen yang dilakukan; (d) kegiatan/upaya rutin dalam rangka K3 (Kebersihan, Kesehatan, dan Keindahan) dan pengendalian lingkungan, serta (e) upaya-upaya lain yang bersifat kasus.

b. Penelusuran Balik
Produk yang dihasilkan dari penanganan pascapanen, harus dapat ditelusuri asal-usul tanamannya.

c. Dukungan Pengelolaan
Dalam pengelolaan bangsal pascapanen, diperlukan dukungan beberapa kegiatan untuk optimasi hasil dan manfaat, yaitu:
1) Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT);
2) Kesehatan dan Keamanan Kerja; dan
3) Keamanan Pangan.

3. Pengawasan dan Pembinaan
(a)  Pelaku usaha penanganan pascapanen hendaknya melaksanakan sistem pengawasan secara internal terhadap proses penanganan pascapanen, guna mencegah dan mengendalikan kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam penerapan cara (yang direkomendasikan) yang mempengaruhi mutu produk;
(b) Hasil pengawasan perlu direkomendasikan, dicatat, dan disimpan dengan baik untuk menunjukkan bukti bahwa aktivitas penanganan pasacapanen sudah sesuai dengan ketentuan;
(c) Pengawasan secara berkala dilakukan pada setiap tahapan pasca panen;
(d) Tersedia form pengaduan (complaint form) dari konsumen;
(e) Form pengaduan yang diterima dari konsumen harus ditindaklanjuti;
(f)  Pelatihan tenaga pelaksana dilakukan secara berkala; dan
(g) Pembinaan terhadap pengelolaan bangsal pascapanen oleh instansi yang menangani sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. (Oleh : Syahrinaldi, DKPP Kab. Bintan , Kepulauan Riau) Sumber : cybex pertanian.go.id 



Budidaya Bawang Merah Dengan Biji




Bawang merah (Allium cepa) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Apalagi sekarang harga bawang merah semakin melejit. Bawang merah merupakan salah satu jenis sayuran yang sudah lama dibudidayakan oleh petani. Bawang merah memiliki nilai ekonomis yang relatif tinggi, merupakan tanaman semusim yang berbentuk rumput, berbatang pendek dan berakar serabut. Daunnya panjang serta berongga seperti pipa. Pangkal daunnya dapat berubah fungsi seperti menjadi umbi lapis. Oleh karena itu, bawang merah disebut tanaman berumbi lapis.

Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah pada umumnya dimaksudkan untuk menciptakan lapisan olah yang gembur dan cocok untuk budidaya bawang merah.
Pemanfaatan lahan berat (struktur liat)  Tanah liat memiliki daya pegang yang kuat terhadap air, ehingga pembuatan got/saluran drainase memegang peranan penting bagi pertumbuhan bawang merah. Pembuatan got keliling, got antar bedengan, kedalamam got dan lebar bedengan harus mampu menjamin kelembaban tanah yang sesuai dengan syarat tumbuh bawang merah.

Pada umumnya pengolahan tanah pada tanah liat adalah dengan menggunakan sistem cemplong dengan pengolahan sebagai berikut:
(a) Tanah dicangkul atau dibajak tipis;
(b) Pembuatan got keliling dengan lebar 40 cm dan kedalaman 90-100 cm;
(c) Cemplong (got) jarak antar bedengan 60 cm dengan kedalaman 30-40 cm dan tanah dinaikkan ke atas petik. Sedangkan lebar bedengan 2.900 cm;
(d) Cecel I (kecrik I pada tanah yang telah dinaikkan dari tanah hasil cemplong yang telah dikeringkan;
(e)  Cecel II (kecrik II) pada tanah yang telah dikecrik I sehingga diperoleh gumpalan tanah yang lebih kecil;
(f) Perataan tanah dengan cangkul sehingga tanah menjadi bertekstur remah;
(g) Sosrok, membuat jarak tanam yang disesuaikan dengan diameter umbi bibit. Makin besar umbi bibit, maka makin jarang jarak tanam.

Pemanfaat lahan ringan (struktur berpasir)
Tanah ringan memiliki sifat kemampuan ikat pada air lebih kecil, sehingga pemanfaatan lahan dapat menggunakan sistem bedeng dengan kedalaman saluran drainase yang lebih dangkal dan lebar saluran drainase yang lebih sempit, namun pembuatan got keliling harus lebih dalam dari pada saluran drainase antar bedengan guna menampung lapisan tanah atas yang ikut larut selama pengairan lahan tanaman bawang merah.

 Pada umumnya pengolahan tanah pada lahan ringan (struktur berpasir) menggunakan sistem bedeng dengan pengolahan sebagai berikut:
(a) Tanah dicangkul/dibajak sedalam 30 cm dan dipetak-petak;
(b) Bedengan dibuat dengan ukuran 1-2 m dan panjang disesuaikan;
(c) Dibuat parit tepi (saluran drainase) di sekeliling petak, dengan ukuran lebar 60 cm dan kedalaman 50 cm;
(d) Got/saluran air) dalam petak dengan lebar 50 cm dan dalam 40 cm;
(e) Tanah diratakan dan dibuat bagian tengah agak tinggi; dan
(f)  Membuat jarak tanam disesuaikan dengan diameter bibit, makin besar bibit maka lebih besar jarak tanam.

Penanaman
Benih yang telah dipindah dari tempat persemaian, dapat ditanam langsung di lahan atau polybag. Cara yang digunakan untuk menanamnya adalah sebagai berikut:

a. Pembuatan lubang tanam
Pembuatan lubang tanam dengan menggunakan sosrok dengan kedalaman disesuaikan dengan panjang bibit, semakin panjang ukuran bibit maka semakin dalam pembuatan lubang, demikian sebaliknya.

b. Pembenaman
Pembenaman diupayakan sampai  semua  bagian benih masuk kedalam lubang yang telah disiapkan sebelumnya. Jarak tanam pada musim kemarau 15 x 15 cm, sedangkan pada musim hujan 15 x 20 cm.

c. Perlakuan Bibit
Sebelum benih ditanamkan, dilakukan pencampuran dengan agens hayati (2 jam sebelum tanam). Bibit bawang merah yang siap ditanam disemprot merata dengan larutan agens hayati dengan dosis 10 cc/liter air. Hal ini digunakan sebagai perangsang tumbuh dan untuk mengendalikan penyakit akar dan moler.

Pengairan
Penyiraman dengan menggunakan alat penyiraman lokal Bima (Bhoru) dilakukan sejak tanam sampai tanaman berumur 4 minggu setiap pagi atau sore hari sesuai kebutuhan tanaman. Setelah umur 4 minggu, mulai diberikan secara Leb (Owa-Bima) yang dipompa dari sumur dangkal atau dari air pengairan (sekali dalam 5 hari/ 7 hari )diselingi penyiraman sampai menjelang panen.  (Oleh : Syahrinaldi, DKPP Kab. Bintan, Kepulauan Riau) Sumber : cybex pertanian.go.id