Kamis, 25 Juli 2013

SOSIALISASI GERAKAN PERCEPATAN PENGANEKARAGAMAN KONSUMSI PANGAN DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU




Badan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Riau mengadakan kegiatan sosialisasi Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP)  melalui  konsep Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL).
 Model Kawasan Rumah Pangan Lestari  adalah membangun sebuah kawasan pemukiman dimana masyarakatnya bisa tercukupi kebutuhan pangan mereka melalui pemanfaatan lahan pekarangan . Setidaknya ada 2 keuntungan yang diperoleh dari pelaksanaan M-KRPL ini yaitu (1). Ibu-ibu anggota kelompok wanita bisa memenuhi kebutuhan dapur mereka (bumbu masak) melalui tanaman yang mereka tanam sendiri sehingga mereka tak perlu lagi membeli dan ini merupakan suatu bentuk penghematan, (2). Jika pemanfaatan lahan pekarangan ini dilaksanakan secara intensif dan memberikan hasil yang banyak yang melebihi kebutuhan keluarga maka hasil yang berlebih ini bisa dijual dan itu bisa menambah pendapatan keluarga.
Kegiatan sosialisasi Gerakan  P2KP melalui konsep M-KRPL ini dilaksanakan di Hotel Plaza, Tanjungpinang. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 3 – 5 April 2013. Sementara itu para peserta yang hadir dalam kegiatan sosialisasi Gerakan P2KP melalui konsep M-KRPL ini adalah para penyuluh pendamping kelompok wanita yang berasal dari kabupaten / kota yang ada di Provinsi Kepulauan Riau, dimana jumlah pesertanya adalah 28 orang. Kemudian yang menjadi narasumbernya berasal dari Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Badan Ketahanan Pangan , Kementerian Pertanian RI.
Kegiatan sosialisasi ini dilakukan dalam bentuk ceramah dan diskusi, kemudian materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut adalah tentang konsep dan penerapan M-KRPL. Gerakan nasional Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) telah dilaunching Presiden tanggal 13 Januari 2012 di Pacitan Jawa Timur untuk di replikasikan di tiap provinsi. Kementerian Pertanian menyusun suatu konsep yang disebut “Model Kawasan Rumah Pangan Lestari” (M-KRPL) dengan prinsip pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga. Ketiga program tersebut mempunyai tujuan yang sama untuk meningkatkan kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan meningkatkan pola pangan harapan (PPH). Kegiatan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) terdapat komponen Diversifikasi Pangan untuk penganekaragaman konsumsi pangan dari bahan baku pangan lokal non beras untuk peningkatan gizi keluarga.
Program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP), Gerakan Perempuan Untuk Optimalisasi Pekarangan (GPOP) dan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) punya tujuan sama yaitu menggerakan perempuan dan optimalisasi pekarangan.
Pemberdayaan pekarangan untuk menyediakan kebutuhan pangan dan gizi keluarga untuk di tanami cabai keriting, cabai rawit, aneka sayuran, tanaman obat dan tanaman hias, selebihnya dapat di jual untuk pendapatan keluarga. Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) dalam pelaksanaannya perlu didukung oleh instansi terkait, perangkat desa dan elemen masyarakat.

    Masalah adalah kurangnya fasilitasi kebijakan pemerintah dan dukungan anggaran yang dapat mendorong dan memberikan insentif bagi masyarakat dalam pemberdayaan lahan pekarangan dalam diversifikasi konsumsi pangan. Selain itu, masih dirasakan kurangnya fasilitasi pemberdayaan ekonomi dan pengetahuan untuk meningkatkan aksesibilitas pada pangan beragam dan bergizi seimbang. Dengan kondisi tersebut diperlukan komitmen pemerintah untuk melibatkan dan mendukung rumah tangga dalam mewujudkan kemandirian pangan dalam menggerakkan lagi budaya menanam di lahan pekarangan, baik di perkotaan maupun di pedesaan.
Kelembagaan yang berpotensi untuk dikembangkan mendukung M-KRPL antara lain kelembagaan kelompok tani dan kelompok PKK dengan melibatkan kelembagaan permodalan dan pemasaran. Proses pengembangan dan penguatan kelembagaan dan penerapan teknologi pangan melalui gerakan perempuan dan optimalisasi pemanfaatan pekarangan.
Rancang Bangun Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL), perlu diwujudkan dalam satu dusun yang telah menerapkan prinsip RPL dengan pemanfaatan pagar hidup, jalan desa, dan fasilitas umum (sekolah, rumah ibadah, dll), serta mengembangkan pengolahan dan pemasaran hasil. Rumah Pangan Lestari terdapat empat substansi yang mendukung satu sama lain saling melengkapi dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga.
Adapun substansi dari Model Kawasan Rumah Pangan Lestari adalah sebagai berikut:
1. Kemandirian pangan rumah tangga
Adalah kemampuan kepala rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan konsumsi protein nabati dan hewani sehari-hari untuk keluarganya. Pemanfaatan lahan pekarangan untuk di tanami aneka tanaman sayuran yang biasa dikonsumsi. Aneka sayuran yang di tanam dalam bentuk pot/ polibag meliputi tanaman sawi, bayam, cabe, caisin, kangkung, seledri, Tomat, Terong, Bawang Daun dan sejenisnya. Protein hewani hasil pemanfaatan lahan pekarangan seperti ayam, telor ayam, ikan, kelinci.
Rumah Tangga Petani dapat dikelompokan menjadi 3 Klaster yaitu:
  1. Rumah Tangga dengan luas pekarangan sempit < 120 m2,
  2. Rumah Tangga dengan luas pekarangan sedang (120 m2 – 400 m2)
  3. Rumah Tangga luas pekarangan > 400 m2 untuk usaha sayuran, ikan dan ternak.
2. Diversifikasi pangan lokal
Dalam upaya penenganekaragaman konsumsi pangan non beras perlu inovasi teknologi budidaya dan proses pengolahan pasca panen. Selain teknologi tersebut introduksi komoditas unggulan daerah dan kearifan lokal yang sudah adaptif merupakan alternatif yang dapat dikembangkan. 
3. Kebun Bibit Desa (KBD)
Untuk menjamin kelestarian dan keberlanjutan usaha pemanfaatan pekarangan, maka ketersediaan bibit menjadi faktor yang menentukan keberhasilan. Oleh karena itu perlu dibangun Kebun Bibit Desa (KBD) untuk mempermudah akses bibit/ benih dan dikelola secara baik di setiap Kawasan Rumah Pangan agar Lestari.
Keberlanjutan pengembangan rumah pangan lestari dapat diwujudkan melalui pengaturan pola dan rotasi tanaman termasuk sistem integrasi tanaman-ternak dan model diversifikasi yang tepat sehingga dapat memenuhi pola pangan harapan dan memberikan kontribusi pendapatan keluarga.
4. Konservasi tanaman
Konservasi tanaman lokal sebagai sumberdaya genetik yang ditujukan untuk mempertahankan kelestarian sumberdaya genetik lokal yang ada di wilayah masing-masing mencegah laju kepunahan. Banyak tanaman umbi-umbian lokal yang juga banyak di budidayakan masyarakat hasilnya untuk di konsumsi dan selebihnya untuk dijual. Permintaan pasar cukup baik terbukti dari harga komoditas umbi-umbian relatif cukup tinggi.
Berdasarkan fenomena tersebut diatas, kegiatan M-KRPL perlu di replikasikan tiap Kabupaten/ Kota  dalam menggerakan perempuan untuk optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan di dukung oleh instansi terkait dan elemen masyarakat. (Oleh : Syahrinaldi, Penyuluh Pertanian pada BPPKP Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Sumber : kalbar.libang.deptan.go.id)

Selasa, 04 Juni 2013

PELATIHAN MITIGASI DAN ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM





Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian, Kementerian Pertanian RI mengadakan kegiatan Pelatihan Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Bagi Penyuluh Pertanian.
Kegiatan ini dilaksanakan terkait dengan adanya fenomena perubahan iklim yang sedang terjadi yang sangat berpengaruh terhadap sektor pertanian . Sehingga dengan adanya kegiatan ini diharapkan para Penyuluh Pertanian Lapangan bisa memahami informasi tentang mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sehingga pada tahap berikutnya informasi tersebut bisa diteruskan kepada para petani yang ada di lapangan . Dengan demikian diharapkan para petani ini memiliki kesiapan dalam menghadapi perubahan iklim.
Kegiatan pelatihan ini dilakukan di Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi, Bogor. Kegiatan Pelatihan Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Bagi Penyuluh Pertanian ini dilaksanakan pada tanggal 28 Januari – 3 Februari  2013.
Sementara itu untuk pesertanya berjumlah 30 orang yang merupakan  para Penyuluh Pertanian Lapangan yang berasal dari 30 kabupaten/kota  yang tersebar di wilayah Sumatera, Jawa dan Kalimantan.
Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan dalam bentuk ceramah, diskkusi dan praktek lapangan. Untuk kegiatan praktek lapangan dilaksanakan di Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tanaman (BBPOPT) di Karawang dan juga di Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi) di Subang , Jawa Barat.  
Pemanasan global menyebabkan peningkatan intensitas kejadian iklim ekstrim (El-Nino dan La-Nina) dan ketidak teraturan musim, Selama 30 tahun terakhir terjadi peningkatan suhu global secara cepat dan konsisten sebesar 0,2oC per dekade, Sepuluh tahun terpanas terjadi pada tahun 2005, Pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat rentan terhadap perubahan iklim yang berdampak pada produktivitas tanaman dan pendapatan petani.
Dampak tersebut bisa secara langsung maupun tidak langsung melalui serangan OPT, fluktuasi suhu dan kelembaban udara yang semakin meningkat yang mampu menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan OPT merupakan beberapa pengaruh perubahan iklim yang berdampak buruk terhadap pertanian di Indonesia. Strategi antisipasi dan teknologi adaptasi terhadap perubahan iklim dan serangan OPT merupakan salah satu aspek yang harus menjadi rencana strategi Kementerian  Pertanian dalam rangka menyikapi perubahan iklim, ancaman OPT setiap tahun terus terjadi, perkembangan hama dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim baik langsung maupun tidak langsung, terjadinya anomali musim, yakni masih adanya hujan di musim kemarau juga dapat menstimulasi serangan OPT.
Pemantauan terhadap dinamika serangan OPT yang dikaitkan dengan perubahan iklim merupakan upaya yang perlu direalisasikan sebagai upaya antisipasi, untuk masa yang akan datang, sistem peringatan dini (early warning system) perlu dibangun, Sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SLPHT) bagi petani dan kelompok tani merupakan kegiatan peningkatan kapasitas yang masih sangat relevan untuk dilakukan hingga saat ini. SLPHT telah ditingkatkan menjadi sekolah lapang iklim (SLI) bahkan berkembang menjadi Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (SLPTT) .
Pemanasan global menyebabkan peningkatan intensitas kejadian iklim ekstrim (El-Nino dan La-Nina) dan ketidak teraturan musim. Perubahan iklim global masa yang akan datang, diperkirakan akan menyebabkan frekuensi dan intensitas kejadian iklim ekstrim akan meningkat. Iklim bumi sedang berubah secara cepat karena meningkatnya emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebagai akibat aktivitas manusia. Meningkatnya kandungan GRK menimbulkan efek GRK di atmosfir. Efek GRK ini menghambat pelepasan panas dari atmosfir yang menyebabkan suhu bumi meningkat.
Pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat rentan terhadap perubahan iklim yang berdampak pada produktivitas tanaman dan pendapatan petani. Dampak tersebut bisa secara langsung maupun tidak langsung melalui serangan OPT.
Organisme penganggu tanaman (OPT) merupakan faktor pembatas produksi tanaman di Indonesia baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan. Organisme pengganggu tanaman secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu hama, penyakit dan gulma. Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh dinamika faktor iklim. Sehingga tidak jarang kalau pada musim hujan petani banyak disibukkan oleh masalah penyakit tanaman seperti penyakit kresek dan blas pada padi, sedangkan pada musim kemarau banyak masalah hama seperti penggerek batang padi, hama belalang kembara.
Peningkatan kejadian iklim ekstrim yang ditandai dengan fenomena banjir dan kekeringan, perubahan pola curah hujan yang berdampak pada pergeseran musim dan pola tanam, fluktuasi suhu dan kelembaban udara yang semakin meningkat yang mampu menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan OPT merupakan beberapa pengaruh perubahan iklim yang berdampak buruk terhadap pertanian di Indonesia.
Untuk mengurangi dampak buruk OPT terhadap produksi dan produktivitas tanaman, diperlukan upaya antisipasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.  Hal ini bertujuan untuk mengembangkan pertanian yang tanggap terhadap variabilitas iklim sekarang dan akan datang. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu disusun program kerja yang sistematis dan terintegrasi untuk melaksanakan agenda adaptasi.
 Pengaruh kejadian iklim ekstrim sering kali menstimulasi ledakan (outbreak) beberapa hama dan penyakit utama tanaman padi, seperti tikus, penggerek batang, wereng coklat dan tungro. Kejadian El-Nino pada tahun 1997 yang diiringi La-Nina tahun 1998 berdampak pada ledakan serangan hama wereng di beberapa provinsi di Indonesia, terutama di Jawa Barat .  Suhu udara dan kelembaban yang meningkat menyebabkan OPT mudah berkembangbiak. Pada kondisi iklim ekstrim La-Nina, peningkatan kelembabam udara sangat signifikan yang menstimulasi ledakan serangan OPT.
Untuk mengurangi dan menanggulangi dampak perubahan iklim terhadap perkembangan dan distribusi OPT serta intensitas serangan OPT terhadap pertanaman, maka diperlukan upaya antisipasi yang tepat. Pemantauan terhadap dinamika serangan OPT yang dikaitkan dengan perubahan iklim merupakan upaya yang perlu direalisasikan sebagai upaya antisipasi. Ploting data kejadian serangan OPT selama 10-20 tahun terakhir dapat dilakukan untuk mempelajari hubungan antara perubahan iklim dengan serangan OPT. Spasialisasi data melalui pemetaan perubahan serangan OPT di wilayah sentra produksi tanaman (pangan) yang rentan pada 10-20 tahun terakhir akan lebih informatif.
Mengingat dinamika iklim ekstrim yang semakin meningkat, model prediksi serangan OPT perlu dibangun berdasarkan skenario perubahan iklim, yaitu pada tahun kering (El-Nino), normal dan tahun basah (La-Nina). Hal ini untuk memberikan peluang antisipasi yang lebih akurat serangan OPT di masa yang akan datang.
Untuk menguji akurasi model prediksi, validasi model prediksi perlu dilakukan dengan cara melakukan survei (ground check) di wilayah-wilayah pewakil yang merepresentasikan wilayah sentra produksi tanaman.
Untuk antisipasi serangan OPT di masa yang akan datang, sistem peringatan dini (early warning system) perlu dibangun. Pembangunan sistem informasi iklim dan serangan OPT menjadi sangat penting. Pengembangan jejaring informasi serangan OPT (pest and diseases forecasting network) perlu dilakukan dan harus menjadi kebijakan yang dikedepankan. Jejaring ini didukung dengan data dan informasi spasial dari citra maupun data dan informasi iklim dari stasiun iklim serta informasi serangan OPT dari Dinas Pertanian Kabupaten/Kota yang telah dikompilasi di tingkat nasional di  Ditjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian.
Sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SLPHT) bagi petani dan kelompok tani merupakan kegiatan peningkatan kapasitas yang masih sangat relevan untuk dilakukan hingga saat ini. Untuk lebih memberdayakan petani dan kelompok tani dalam mengatasi permasalahan serangan OPT, SLPHT telah ditingkatkan menjadi sekolah lapang iklim (SLI) bahkan berkembang menjadi Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (SLPTT) dan Sekolah Lapang Pertanian.
Penelitian dan pengembangan tentang prediksi iklim serta pemodelannya harus terus dilakukan untuk mendukung peningkatan akurasi prediksi serangan OPT di masa yang akan datang. (Oleh : Syahrinaldi, Penyuluh Pertanian, BPPKP Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Sumber : balitklimat.litbang.deptan.go.id)


Sabtu, 13 April 2013

PENGEMBANGAN USAHA PUPUK KOMPOS DAN BIOGAS UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PETANI


Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bintan mengadakan bimbingan teknis Agro Industri Pengolahan Kompos dan Biogas. Kegiatan ini dilakukan karena sekarang ini di Kabupaten Bintan khususnya di Kecamatan Bintan Utara cukup banyak petani yang memelihara ternak sapi. Dari peternakan sapi ini banyak dihasilkan kotoran sapi. Tetapi selama ini kotoran sapi tersebut belum diolah secara baik untuk dijadikan pupuk kompos dan biogas . Pada hal potensinya cukup besar oleh karena itu Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bintan mengadakan bimbingan teknis Agro Industri Pengolahan Kompos dan Biogas untuk memanfaatkan potensi kotoran sapi tersebut.
Dengan dilakukannya bimbingan teknis ini diharapkan petani mampu menerapkan tata cara pengolahan kompos dan penerapan biogas. Kemudian pupuk kompos yang dihasilkan bisa dimanfaatkan untuk memupuk tanaman yang mereka kelola dan sebagian lagi bisa dijual ke petani-petani lain yang memerlukannya. Sementara itu hasil dari biogas bisa dimanfaatkan oleh petani untuk kegiatan memasak di dapur. Sehingga dari kegiatan ini diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan petani.
Kegiatan bimbingan teknis ini dilaksanakan di Desa Lancang Kuning Kecamatan Bintan Utara Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau dan dilakukan pada hari Selasa (02/10/2012)
Acara tersebut dibuka oleh Bapak Ir. Nazarudin, Kepala Bidang Perkebunan mewakili Kepala Dinas Pertanian Kehutanan dan Peternakan Provinsi Kepulauan Riau. Turut hadir dalam acara tersebut Bapak Drs. Adi Prihantara, MM Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bintan, juga hadir Ibu Dahlia Zulfah selaku Camat Bintan Utara. Sementara itu yang menjadi narasumber adalah Bapak Dadi Rosadi, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) pada Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bintan, drh. Setyo Rahardjo dari Distanhut Kabupaten Bintan, Bapak Padil dari Distanhut Kabupaten Bintan, drh. Azhari dari Distanhut Kabupaten Bintan.
Kemudian para peserta yang mengikuti kegiatan bimbingan teknis Agro Industri Pengolahan Kompos dan Biogas ini berasal dari berbagai anggota kelompok tani yang terdapat di Kabupaten Bintan. Mereka ini berasal dari Kecamatan Bintan Utara, Kecamatan Teluk Bintan, Kecamatan Toapaya, Kecamatan Gunung Kijang. Secara Keseluruhan jumlah peserta yang mengikuti bimbingan teknis ini adalah 30 orang dan kegiatan ini berlangsung selama 1 hari.
Dalam kegiatan bimbingan teknis tersebut narasumber menyampaikan cara pembuatan pupuk kompos,    untuk menghasilkan pupuk kompos diperlukan bahan-bahan seperti,  Kotoran sapi sebanyak 80-83%, Kapur gamping  2%,  Pemacu mikroorganisme (Stardec)  0,25%,  Air secukupnya,  Serbuk gergaji  5%, Abu sekam  10%. Alat-alat yang digunakan, Sekop,  Cangkul, Alat pengangkut dan mengumpulkan kotoran (grobak sorong), tempat pembuatan dan penyimpanan (semacam gudang). Bangunan tempat pembuatan sebaiknya dibuatkan tempat  khusus untuk membuat kompos, terutama bagi kandang kolektif. Lokasinya diusahakan agar tidak jauh dari kandang, untuk memudahkan pengumpulan kotorannya.
Kemudian dalam  proses pembuatan kompos itu  tempatnya terlebih dahulu harus disiapkan.  Diusahakan tempat pembuatan pupuk organik terlindung dari terik matahari langsung atau hujan ( tempat yang beratap). Saat pembuatan kompos diusahakan agar tidak tergenang air ataupun terkena air hujan karena akan menjadi busuk.  Kotoran sapi (feses dan urine) yang bercampur dengan sisa pakan, di kumpulkan pada satu tempat, ditiriskan atau dikering anginkan selama satu minggu agar tidak terlalu basah.  Kotoran sapi yang sudah ditiriskan tersebut kemudian dipindahkan ke lokasi pembuatan dan diberi kalsit/kapur dan dekomposer. Untuk membuat 1 ton bahan pembuatan kompos (kotoran ternak) membutuhkan 20 kg kapur, 50 kg ampas gergaji, 100 kg abu sekam dan 2,5 kg dekomposer (stardec)dan seluruh bahan dicampur lalu diaduk merata.
Setelah satu minggu diperam, campuran tadi diaduk/dibalik secara merata untuk menambah suplai oksigen dan meningkatkan homogenitas bahan. Pada tahap ini diharapkan terjadi peningkatan suhu bisa diukur dengan memasukkan telapak tangan ke dalam tumpukan bahan, bila terasa hangat berarti terjadi proses pemeraman. Minggu kedua dilakukan pembalikan lagi. Demikian seterusnya sampai pada minggu keempat. Pada saat ini pupuk telah matang dengan warna pupuk coklat kehitaman bertekstur remah dan tidak berbau.  Pemeraman dilakukan selama 1 bulan. Kelembaban dan temperatur harus tetap dijaga agar sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk hidup dan berkembang. Kemudian pupuk diayak atau disaring untuk mendapatkan bentuk yang seragam serta memisahkan dari bahan yang tidak diharapkan (misalnya batu, potongan kayu, rafia) sehingga pupuk yang dihasilkan benar-benar berkualitas. Selanjutnya pupuk organik siap diaplikasikan ke lahan sebagai pupuk dasar atau dapat disimpan pada tempat yang terlindung dari terik matahari dan hujan.
Berdasarkan penjelasan dari narasumber dari segi analisa ekonomis kegiatan pengolahan kompos ini menguntungkan petani dan layak untuk dilaksanakan, dari 1 ton kompos yang dihasilkan oleh petani maka petani bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp.300.000. Dengan diperolehnya  keuntungan yang sebesar ini diharapkan para petani termotivasi atau terdorong untuk mengembangkan pupuk kompos sehingga melalui bimbingan teknis ini diharapkan kesejahteraan petani bisa lebih meningkat. (Oleh : Syahrinaldi, Penyuluh Pertanian, BPPKP Kabupaten Bintan) 

Kamis, 11 April 2013

TEMU KARYA PENYULUH PERTANIAN DAN PENGURUS GAPOKTAN SE-PROVINSI KEPULAUAN RIAU





Badan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Riau mengadakan kegiatan Temu Karya Penyuluh Pertanian   dan Pengurus  Gapoktan se-Provinsi  Kepulauan Riau. Kegiatan ini pada awalnya di rancang untuk menampilkan karya atau prestasi kerja para Penyuluh Pertanian  dan pengurus Gapoktan di lapangan, tetapi ternyata dalam pelaksanaannya lebih tepat dikatakan sebagai temu teknis karena pada saat itu para peserta diberi materi tentang budidaya tanaman Buah Naga dan materi tentang Agribisnis.
Kegiatan Temu Karya ini di laksanakan di Hotel Sunrise City , Tanjungpinang. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Senin dan Selasa (10 – 11 Des 2012). Kegiatan tersebut dihadiri dan dibuka oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Riau, Bapak Rahminudin, MM dan sebagai narasumber nya adalah Bapak Irwan Kasup dari BPTP Riau.
Dalam pelaksanaannya kegiatan ini dilakukan dalam bentuk ceramah dan diskusi  dan Para Penyuluh Pertanian dan Pengurus Gapoktan cukup bersemangat mengikuti kegiatan Temu Karya ini. Dalam kesempatan tersebut disampaikan   materi tentang budidaya dan pengendalian hama  penyakit pada  tanaman Buah Naga . Tanaman Buah Naga sebenarnya termasuk tanaman yang tahan terhadap kekeringan karena tanaman ini termasuk dalam famili kaktus dan relatif mudah dalam perawatannya. Tetapi tentunya dalam budidaya selalu ada gangguan hama dan penyakit yang menyerang yang bisa mengakibatkan hasil produksi yang tidak maksimal dan bisa mengalami kerugian. Oleh karena itu harus diperhatikan apabila dijumpai gangguan hama dan penyakit yang menyerang tanaman buah naga.
             Adapun gangguan hama yang menyerang tanaman buah naga yaitu :
Tungau
            Hama Tungau  menyerang kulit batang atau cabang yang merusak jaringan klorofil yang berfungsi untuk asimilasi dari hijau menjadi cokelat. Penanggulangannya dengan menyemprotkan Omite dengan dosis 1-2 gr/ltr air yang dilakukan 2-3 kali seminggu.

Kutu Sisik
Hama kutu sisik umumnya berada pada bagian cabang yang tidak terkena matahari langsung dan cabang yang diserang hama ini akan terlihat kusam. Hama ini juga bisa diatasi dengan penyemprotan Kanon dengan dosis sama dengan pengendalian hama kutu putih pada sela-sela tanaman yang ternaungi atau tidak terkena sinar matahari.

Kutu Batok
Hama kutu batok menyerang tanaman dengan mengisap cairan pada batang atau cabang yang menyebabkan cabang berubah menjadi berwarna kuning. Pengendaliannya juga bisa menggunakan cara yang sama dengan pengendalian hama kutu putih dan kutu sisik.

Bekicot
           Hama bekicot sangat merugikan bagi tanaman buah naga karena  hama ini menyerang pada bagian  batang atau cabang dengan menggerogotinya dan dapat mengakibatkan cabang tanaman akan membusuk . Hama ini disebabkan karena kebersihan kebun yang kurang terjaga.

Semut
            Hama semut muncul pada saat tanaman buah naga mulai berbunga.  Hama semut mulai mengerubungi bunga yang baru kuncup dan akan mengakibatkan kulit buah nantinya akan berbintik-bintik berwarna coklat yang tentunya harga buah akan menurun dengan kualitas seperti itu. Pengendalian atau pencegahannya dengan menyemprotkan Sevin atau  Gusadrin dengan dosis 2 cc/ltr air.

Burung
            Gangguan hama burung pada tanaman buah naga umumnya jarang terjadi dan tidak perlu dikuatirkan. Biasanya menyerang pada buah yang telah masak pada bagian atas.

PENYAKIT TANAMAN BUAH NAGA
Busuk Pangkal Batang
Penyakit busuk pangkal batang pada umumnya menyerang pada saat penanaman buah naga, tanaman buah naga sering mengalami pembusukan pada pangkal batang, berwarna kecokelatan dan terdapat bulu putih. Pembusukan tersebut disebabkan oleh kelembaban tanah yang berlebihan sehingga muncul jamur yang menyebabkan kebusukan yaitu Sclerotium rolfsii Sacc. Penyakit ini sering terjadi pada bibit setek yang belum tumbuh akar dalam bentuk potongan. Pengendalian penyakit tanaman buah naga yang terserang oleh penyakit busuk pangkal batang harus menggunakan  penyemprotan Benlate dengan dosis 2 g/ltr air atau menggunakan Ridomil 2 g/ltr air sebulan sekali.
Bila muncul gejala kekuningan pada pangkal batang maka segera dilakukan penyemprotan pada seluruh batang dan diutamakan pada pangkal batang yang terserang.
           Pengendalian  penyakit busuk pangkal batang dapat dilakukan dengan  cara pengairan yang yang sesuai dengan kebutuhan dari tanaman dan disertai dengan penyemprotan fungisida dan Atonik didaerah pangkal batang pada tanaman yang berumur 30 hari pada awal penanaman.
 

Fusarium
        Penyakit layu yang disebabkan oleh jamur  Fusarium oxysporium Schl. Gejalanya antara lain cabang tanaman berkerut, layu, dan busuk berwarna coklat. Penanggulangannya dengan menyemprotkan Benlate dengan dosis 2g/liter air dalam seminggu 1-2 kali penyemprotan pada bagian batang dan cabang.
Kegiatan Temu Karya Penyuluh Pertanian dan Pengurus Gapoktan ini diikuti sebanyak 82 orang yang berasal dari utusan  Kabupaten dan Kota yang ada di Provinsi Kepulauan Riau. (oleh : Syahrinaldi, Penyuluh Pertanian pada BPPKP Kabupaten Bintan)