Rabu, 13 April 2016

PELATIHAN PEMBIBITAN TANAMAN BAWANG MERAH


 
Loka Pengkajian Teknologi Pertanian (LPTP) Provinsi kepulauan Riau mengadakan kegiatan pelatihan pembibitan Bawang Merah. Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan agar petani Bawang Merah bisa menghasilkan bibit Bawang Merah sendiri , sehingga mereka tidak lagi tergantung pada bibit yang saat ini masih didatangkan dari luar.
Kegiatan pelatihan pembibitan Bawang Merah ini dilaksanakan di kelompok tani Makaryo Kelurahan Toapaya Asri , Kecamatan Toapaya Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau.  Kegiatan ini diadakan pada hari Jum’at, 11 September 2015. Kegiatan pelatihan ini berlangsung selama 1 hari mulai dari jam 8.30 sampai dengan jam 05.00 sore.
Selain dari pihak LPTP , turut hadir juga para petani, Penyuluh Pertanian yang bertugas di Kecamatan Toapaya, serta peneliti dari Balitsa. Jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan pelatihan tersebut berjumlah 25 orang. Kegiatan pelatihan ini dilakukan melalui ceramah dan diskusi . Dalam kesempatan tersebut narasumber menyampaikan bahwa untuk menghasilkan bibit Bawang Merah yang baik maka yang harus dilakukan adalah  pemeliharaan yang baik juga terhadap tanaman induknya . Dengan melakukan perawatan yang baik pada tanaman induk maka diharapkan akan dihasilkan bibit Bawang Merah (umbi) yang berkualitas.  
Budidaya bawang merah memerlukan penyinaran matahari lebih dari 12 jam sehari. Tanaman ini cocok dibudidayakan di dataran rendah dengan ketinggian 0 hingga 900 meter dari permukaan laut. Suhu optimum untuk perkembangan tanaman bawang merah berkisar 25-32 derajat celcius. Sedangkan keasaman tanah yang dikehendaki sekitar pH 5,6-7. Varietas benih untuk budidaya bawang merah cukup banyak. Ada benih lokal hingga benih hibrida impor. Bentuk benihnya ada yang dari biji, ada juga berupa umbi. Kebanyakan budidaya bawang merah di sentra-sentra produksi menggunakan umbi sebagai benih.
Benih bawang merah yang baik berasal dari umbi yang dipanen tua, lebih dari 80 hari untuk dataran rendah dan 100 hari dataran tinggi. Benih bawang merah yang baik setidaknya telah disimpan 2-3 bulan. Ukuran benih sekitar 1,5-2 cm dengan bentuk yang bagus, tidak cacat, berwarna merah tua mengkilap. Kebutuhan benih untuk budidaya bawang werah tergantung dengan varietas, ukuran benih dan jarak tanam. Untuk jarak tanam 20×20 dengan bobot umbi 5 gram dibutuhkan sekitar 1,4 ton benih per hektar. Untuk bobot yang sama dengan jarak tanam 15×15 dibutuhkan 2,4 ton per hektar.
Tanah dibuat bedengan dengan lebar 1-1,2 meter, tinggi 20-30 cm dan panjang sesusai dengan kondisi kebun. Jarak antar bedengan 50 cm, sekaligus dijadikan parit sedalam 50 cm. Cangkul bedengan sedalam 20 cm, gemburkan tanahnya. Bentuk permukaan atau bagian atas bedengan rata, tidak melengkung. Tambahkan kapur atau dolomit sebanyak 1-1,5 ton per hektar apabila keasaman tanah kurang dari pH 5,6. Penambahan kapur setidaknya diberikan 2 minggu sebelum tanam.
Gunakan 15-20 ton pupuk kompos atau pupuk kandang sebagai pupuk dasar. Tebarkan pupuk di atas bedengan dan aduk dengan tanah hingga merata. Bisa juga ditambahkan urea, ZA, SP-36 dan KCL sebanyak 47 kg, 100 kg, 311 kg dan 56 kg setiap hektarnya. Campur pupuk buatan tersebut sebelum diaplikasikan. Biarkan selama satu minggu sebelum bedengan ditanami. Siapkan benih atau umbi bawang merah yang siap tanam. Apabila umur umbi masih kurang dari 2 bulan, lakukan pemotesan terlebih dahulu. Pemotesan adalah pemotongan bagian ujung umbi, sekitar 0,5 cm. Fungsinya untuk memecahkan masa dorman dan mempercepat tumbuhnya tananaman.
Jarak tanam untuk budidaya bawang merah pada saat musim kemarau dipadatkan hingga 15×15 cm. Sedangkan pada musim hujan setidaknya dibuat hingga 20×20 cm. Benih bawang merah ditanam dengan cara membenamkan seluruh bagian umbi kedalam tanah. Penyiraman pada budidaya bawang merah hendaknya dilakukan sehari dua kali setiap pagi dan sore. Setidaknya hingga tanaman berumur 10 hari. Setelah itu, frekuensi penyiraman bisa dikurangi hingga satu hari sekali.
Pemupukan susulan diberikan setelah tanaman bawang merah berumur 2 minggu. Jenis pupuk terdiri dari campuran urea, ZA, dan KCl yang diaduk rata. Komposisi masing-masing pupuk sebanyak 93 kg, 200 kg dan 112 kg untuk setiap hektarnya. Pemupukan susulan selanjutnya diberikan pada minggu ke-5 dengan komposisi urea, ZA, KCl sebanyak 47 kg, 100 kg, 56 kg per hektar. Pemupukan diberikan dengan membuat garitan disamping tanaman.
Penyiangan gulma biasanya dilakukan sebanyak dua kali dalam satu musim tanam. Untuk menghemat biaya, lakukan penyiangan bersamaan dengan pemberian pupuk susulan. Namun apabila serangan gulma menghebat, segera lakukan penyiangan tanpa menunggu pemberian pupuk susulan.
Budidaya bawang merah mempunyai banyak jenis hama dan penyakit. Namun yang paling sering menyerang di sentra-sentra produksi adalah hama ulat dan penyakit layu. Hama ulat (Spodoptera sp.) menyerang daun, gejalanya terlihat bercak putih pada daun. Bila daun diteropong terlihat seperti gigitan ulat. Hama ini ditanggulangi dengan pemungutan manual, ulat dan telur diambil untuk dimusnahkan. Bisa juga dengan menggunakan feromon sex perangkap, gunakan sebanyak 40 buah per hektar. Bila serangan menghebat, kerusakan lebih dari 5% per rumpun daun, semprot dengan insektisida yang berbahan aktif klorfirifos.
Penyakit layu fusarium, disebabkan oleh cendawan. Gejalanya daun menguning dan seperti terpilin. Bagian pangkal batang membusuk. Penanganannya dengan mencabut tanaman yang mati kemudian membakarnya. Penyemprotan bisa menggunakan fungsida.
Ciri-ciri budidaya bawang merah siap panen apabila 60-70% daun sudah mulai rebah. Atau, lakukan pemeriksaan umbi secara acak. Khusus untuk pembenihan umbi, tingkat kerebahan harus mencapai lebih dari 90%. Budidaya bawang merah biasanya sudah bisa dipanen setelah 55-70 hari sejak tanam. Produktivitas bawang merah dangat bervariasi tergantung dari kondisi lahan, iklim, cuaca dan varietas. Di Indonesia, produktivitas budidaya bawang merah berkisar 3-12 ton per hektar dengan rata-rata nasional 9,47 ton per hektar. Umbi bawang merah yang telah dipanen harus dikeringkan terlebih dahulu. Penjemuran penjemuran bisa berlangsung hingga 7-14 hari. Pembalikan dilakuan setiap 2-3 hari. Bawang yang telah kering, kadar air 85%, siap untuk disimpan atau dipasarkan. ( Oleh, Syahrinaldi, SP, Penyuluh Pertanian pada BPPKP Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau)

Jumat, 16 Januari 2015

PENGENDALIAN HAMA DENGAN MENGGUNAKAN PERANGKAP HORMON



Dinas  Pertanian Kehutanan dan Peternakan Provinsi Kepulauan Riau mengadakan kegiatan pelatihan teknik pengendalian hama Lalat Buah dengan menggunakan perangkap hormon metil eugenol. Kegiatan ini  dilakukan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada kelompok tani  agar kelompok tani terampil dalam mengendalikan hama Lalat Buah secara ramah lingkungan .
Pengendalian hama Lalat Buah ini dilakukan dengan menggunakan perangkap hormon dan tidak menggunakan pestisida kimia jadi aman bagi lingkungan. Cukup banyak anggota kelompok tani yang hadir dalam pelatihan tersebut. Pelatihan  teknik pengendalian hama Lalat Buah dengan menggunakan perangkap hormon  ini dilaksanakan di sei Jeram Desa Lancang Kuning Kecamatan Bintan Utara Kabupaten Bintan. Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 15 Oktober  2014 yang lalu.
Dalam kegiatan pelatihan  teknik pengendalian hama Lalat Buah dengan menggunakan perangkap hormon  ini pihak penyelenggara mendatangkan narasumber dari BPTP Provinsi Riau , turut hadir juga penyuluh pertanian dari BPPKP Kabupaten Bintan , sedangkan para pesertanya berasal dari kelompok tani  -  kelompok tani yang ada di Desa Lancang Kuning Kecamatan Bintan Utara Kabupaten Bintan.  Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan pelatihan ini ada sekitar 25 orang.
Perangkap adalah tempat atau alat yang digunakan untuk menangkap hama yang diberi umpan. Pengendalian hama yang ramah lingkungan dapat dikendalikan dengan pengendalian fisik dan mekanik. Salah satu pengendalian fisik dapat dilakukan dengan cara penggunaan lampu perangkap, sedangkan pengendalian mekanik dapat dilakukan dengan memasang perangkap yang diberi zat-zat kimia yang dapat menarik atau warna, aroma makanan atau bau tertentu.
Perangkap aroma, Misalnya aroma metil eugenol.  Metil Eugenol merupakan atraktan yang sering digunakan untuk mengendalikan lalat buah . Zat ini bersifat volatile atau menguap dan melepaskan aroma wangi dengan radius mencapai 20-100 m, tetapi jika dibantu oleh angin jangkauan bisa mencapai 3 km. Atraktan sintetik sudah banyak beredar dipasaran tetapi harganya cukup  mahal, dapat menimbulkan iritasi pada kulit, dan belum tentu berhasil dalam pengaplikasiannya. Selain dari bahan kimia sintetik, metil eugenol juga dapat dibuat secara langsung dari beberapa tanaman seperti  tanaman cengkeh, kayu putih, daun wangi, dan selasih .
 Serangga tertentu juga lebih tertarik terhadap warna yang disukai serangga biasanya warna-warna kontras seperti kuning cerah, selain itu juga perangkap hama bisa menggunakan hormon penarik lawan jenisnya dalam satu species yang dikenal dengan feromon.
Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan perangkap adalah sebagai berikut,  ukuran atau jenis serangga yang akan ditangkap kebiasaan keluar siang atau malam hari, Stadium perkembangan serangga, makanan kesukaannnya, warna kesukaannya, kekuatan atau kemampuan hama untuk berinteraksi terhadapa jerat dan cara terbang hama.
Aroma atau bau tertentu juga dapat menarik perhatian serangga. Mereka tertarik pada aroma yang dikeluarkan lawan jenisnya dengan zat tertentu saat akan melakukan kawin. Dengan mengetahui sifat serangga seperti itu maka telah dikembangkan perangkap aroma dengan menggunakan atraktan. Atraktan merupakan bahan pemikat yaitu suatu bahan kimia dimana bahan aktifnya bersifat memikat jasad sasaran yang biasanya khusus untuk serangga tertentu. Penggunaan perangkap aroma merupakan perangkap yang paling banyak digunakan petani terutama untuk pengendalian serangga lalat buah baik pada cabai, mangga dan lain-lain. Contohnya adalah Methyl eugenol  yang dapat digunakan sebagai sex feromon untuk menarik perhatian serangga lalat buah pada cabai.
Lalat buah merupakan hama yang sangat merugikan di bidang hortikultura, yang dapat menurunkan produktivitas buah-buahan dan sayuran buah segar di dalam negeri. Pengendalian yang dilakukan pada umumnya adalah dengan pembungkusan buah-buahan ataupun pemberonjongan pohonnya dengan kasa, pengasapan untuk mengusir lalat buah, penyemprotan dengan insektisida, pemadatan tanah di bawah pohon untuk memutus siklus hidup serta penggunaan atraktan (zat pemikat) yang salah satunya berbahan methyl eugenol.
Penggunaan atraktan metil eugenol merupakan cara pengendalian yang ramah lingkungan dan telah terbukti efektif. Atraktan dapat digunakan untuk mengendalikan hama lalat buah dalam tiga cara yaitu : (1) Mendeteksi atau memonitor populasi lalat buah, (2) menarik lalat buah untuk kemudian dibunuh dengan perangkap, dan (3) mengacaukan lalat buah dalam perkawinan, berkumpul dan cara makan. Atraktan merupakan zat yang bersifat menarik , mengandung bahan aktif metil eugenol.
Bahan- bahan yang diperlukan untuk membuat alat perangkap Lalat Buah adalah, (1) Botol plastik bekas yang nanti kita gunakan sebagai perangkap lalat buah, (2) Kawat / tali, (3) Kapas / kain, (4) Paku atau pisau untuk melubangi botol, (5) Petrogenol dengan bahan aktif methyl eugenol  Sebagai umpan, (6) Air.
Cara membuatnya adalah, Buat lubang pada botol seukuran lalat buah, Buat lubang juga pada tutup botol untuk memasukan kawat, Masukan kawat pada lubang tutup botol, pada bagian bawah kawat diberi kapas atau kain, sedangkan dibagian atas dibuat lilitan, sehingga lilitan kapas/kain akan menggantung ditengah-tengah botol, Isi botol dengan air sebanyak 1/4  bagian, Oleskan kapas dengan Petrogenol sebagai pengikat lalat buah jantan, Gantung pada lokasi yang banyak lalat buah. Selamat mencoba...!! (Oleh Syahrinaldi, BPPKP Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau ).


Rabu, 31 Desember 2014

WORKSHOP KALENDER TANAM






Loka Pengkajian Teknologi Pertanian (LPTP) Provinsi Kepulauan Riau mengadakan kegiatan workshop tentang Rekomendasi Teknlogi Pengelolaan Tanaman Terpadu dan Kalender Tanam. Kegiatan ini dilakukan untuk menyebarkan informasi tentang pengelolan tanaman terpadu untuk komoditi Jagung, Kedelai. Kepada para Penyuluh Pertanian Lapangan dan Petani . Dari kegiatan ini diharapkan nanti informasi tentang Pengelolaan Tanaman Terpadu dan Kalender Tanam ini bisa diterapkan di lapangan.
Kemudian  terkait adanya  fenomena perubahan iklim maka para Penyuluh Pertanian Lapangan di dorong untuk menyusun KATAM (Kalender Tanam) di wilayah kerjanya masing-masing dan kemudian Penyuluh Pertanian perlu mensosialisasikannya kepada kelompok tani di lapangan.
Workshop tentang rekomendasi teknologi  Pengelolaan Tanaman Terpadu dan KATAM ini dilaksanakan di Hotel Plaza Tanjungpinang. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 24 April 2014 dan di hadiri sebanyak 30 orang peserta.
Selain dihadiri oleh Penyuluh Pertanian dan kelompok tani juga turut hadir BMKG kota Tanjungpinang. Dalam kesempatan tersebut BMKG memberikan informasi tentang cuaca dan fenomena perubahan iklim.
Sehubungan dengan sedang terjadinya perubahan iklim maka sangat penting sekali di susun KATAM di tingkat desa dan kecamatan. Dengan adanya KATAM, ini bisa menjadi pedoman bagi petani kapan mereka akan menanam dan kapan mereka akan panen dengan memperhatikan keadaan musim.
Perubahan iklim merupakan gejala alam yang telah terjadi di tingkat global, regional, maupun lokal. Salah satu dampaknya adalah perubahan awal dan akhir musim tanam yang sangat berpengaruh terhadap pola tanam, luas tanam, dan produksi tanaman.
Akibat perubahan iklim, hampir setiap tahun petani berhadapan dengan pergeseran musim terkait dengan perubahan pola curah hujan. Selain itu, tidak jarang pula petani berhadapan dengan kondisi iklim yang ekstrim, baik kering (El-Nino) maupun basah (La-Nina). Kondisi iklim tersebut, memicu ancaman banjir, kekeringan dan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang berakibat pada penurunan produksi tanaman, bahkan gagal panen.
Perubahan pola curah hujan harus menjadi perhatian serius dalam mengatur pola termasuk waktu dan luas tanam, agar kesinambungan produksi dan kemandirian pangan nasional tidak terancam.
Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu adalah pedoman atau alat bantu yang memberikan informasi spasial dan tabular tentang prediksi musim, awal waktu tanam, pola tanam, luas tanam potensial, wilayah rawan kekeringan dan banjir, potensi serangan OPT, serta rekomendasi dosis dan kebutuhan pupuk, varietas yang sesuai (pada lahan sawah irigasi, tadah hujan dan rawa) berdasarkan prakiraan iklim.

Mendukung upaya “pengamanan” dan “peningkatan” produksi pangan dalam kerangka “Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN), dan Ketahanan Pangan Nasional, termasuk pencapaian surplus 10 juta ton beras tahun 2014.
Kalender Tanam ini memiliki banyak manfaat yaitu,  (1) Menentukan waktu tanam setiap musim (MH, MK-1 dan MK-2), (2) Menentukan pola tanam, rotasi tanam dan rekomendasi teknologi pada skala kecamatan, (3) Menduga potensi luas tanam untuk mendukung sistem perencanaan tanam dan produksi tanaman pangan, (4) Mengurangi resiko penurunan dan kegagalan produksi serta kerugian petani akibat banjir, kekeringan dan serangan OPT. (5)  Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu disusun secara sederhana agar mudah dipahami oleh pemangku kepentingan, penyuluh, dan kelompok tani dalam mengatur kalender dan pola tanam sesuai dengan kondisi iklim.
Adapun keunggulan dari Kalender Tanam ini adalah, (1) Dinamis,  disusun berdasarkan prediksi iklim musiman dan tahunan, (2)  Operasional dan spesifik lokasi, didasarkan pada potensi sumberdaya iklim dan air, wilayah rawan  bencana (banjir, kekeringan, OPT) tingkat kecamatan, (3) Terpadu, diintegrasikan dengan rekomendasi teknologi (pupuk, benih, PHT), (4)  Mudah diperbaharui, (5) Mudah dipahami pengguna. (Oleh, Syahrinaldi, BPPKP Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau)

Kamis, 25 Desember 2014

Lomba Cipta Menu B2SA di Kabupaten Bintan



     



Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bintan bekerjasama dengan Tim penggerak PKK Kabupaten Bintan mengadakan kegiatan Lomba Cipta Menu B2SA (Beragam, Bergizi,  Seimbang  dan Aman). Kegiatan lomba ini dilaksanakan untuk menggalakan pangan non beras, sehingga untuk ke depannya diharapakan masyarakat tidak lagi bergantung pada pangan yang berbahan dasar beras dan pada tahap berikutnya diharapkan tingkat konsumsi beras bisa di kurangi.

Kegiatan lomba ini dilaksanakan di halaman Gedung Nasional Tanjung Uban Kecamatan Bintan Utara Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Lomba Cipta Menu B2SA ini dilaksanakan pada tanggal 24 Mei 2014. Sementara itu para peserta yang ikut lomba cipta menu ini adalah berasal dari tim PKK kecamatan yang ada di Kabupaten Bintan.  Acara Lomba Cipta Menu ini di buka oleh Bapak Bupati Bintan, Bapak Ansar Ahmad, SE. MM, turut hadir para kepala dinas dan kepala badan di lingkungan pemerintah kabupaten Bintan, serta juga hadir Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bintan , Ibu Dewi Kumalasari.

Lomba ini mempunyai arti yang sangat penting mewujudkan ketahanan pangan. Penganerekaragaman pangan menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan ketahanan pangan. Melalui lomba inilah masyarakat diajak untuk mengurangi konsumsi beras dan beralih konsumsi non beras dan non terigu, mengolahnya menjadi makanan khas daerah.

 Selama ini masyarakat  masih mengandalkan bahan pangan dari beras. Sementara itu lahan pertanian atau sawah yang produktif semakin hari semakin berkurang, beralih fungsi menjadi bangunan dan gedung. Kalau ini dibiarkan akan lama kelamaan berdampak, berkurangnya produksi pangan beras. Masyarakat dihimbau memanfaatkan pekarangan untuk bisa menghasilkan bahan pangan.    Seperti ubi, sagu dan jagung dengan melakukan inovasi dalam pengolahannya sehingga menjadi makanan yang menarik, bergizi dan berkualitas.

Lomba ini sasarannya kaum ibu-ibu, gunanya memotivasi ibu-ibu tersebut, melahirkan kreativitas dan keterampilan mengolah dan menyajikan makanan yang berbahan non beras dan non terigu. Memanfaatkan bahan pangan yang berasal dari ubi-ubian, jagung dan sagu, mengolahnya menjadi makanan khas daerah. (Oleh : Syahrinaldi,  BPPKP Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.)