Minggu, 23 Juni 2019

Syarat Tumbuh Tanaman Durian



                         
     

Durian adalah raja dari segala buah (King of Fruit). Hampir semua orang mengenal buah ini dan pernah mencicipinya. Pada umumnya orang menyukainya, kendatipun relatif mahal. Harga durian berkualitas bisa mencapai Rp.40.000,-/kg, tetapi kalau sudah memulai memakan buah ini sulit untuk menghentikannya sebelum benar-benar puas.

Durian dikenal juga sebagai buah yang kontroversial. Meskipun banyak yang suka, namun sebagian yang lain muak dan pusing dengan aromanya. Karena baunya yang keras, sejumlah perusahaan bahkan melarang orang membawa durian. Misalnya di kabin pesawat udara, di kendaraan umum ataupun dibawa ke kamar hotel.
 
Durian merupakan tanaman buah berupa pohon. Tumbuhnya lebih banyak di daerah-daerah tropis. Sebutan durian diduga berasal dari istilah Melayu yaitu dari kata duri yang diberi akhiran-an sehingga menjadi durian. Kata ini terutama dipergunakan untuk menyebut buah yang kulitnya berduri tajam.  Tanaman durian berasal dari hutan Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan yang berupa tanaman liar. Penyebaran durian ke arah Barat adalah ke Thailand, Birma, India dan Pakistan. Buah durian sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad 7 M. Nama lain durian adalah duren (Jawa, Gayo), duriang (Manado), dulian (Toraja), rulen (Seram Timur).

Pusat keanekaragaman durian adalah Pulau Kalimantan. Daerah-daerah sekitarnya juga memilki beberapa plasma nutfah durian, seperti Mindanao, Sumatera, dan Semenanjung Malaya meskipun tidak semelimpah Kalimantan. Meskipun demikian, pengekspor utama durian adalah Thailand, yang mampu mengembangkan kultivar dengan mutu tinggi dan sistem budidaya yang baik. Tempat lain yang membudidayakan durian dengan orientasi ekspor adalah Mindanao di Filipina, Queensland di Australia, Kamboja, Laos, Vietnam, India, dan Sri Lanka.
 
Tanaman durian termasuk famili Bombaceae sebangsa pohon kapuk-kapukan. Yang
lazim disebut durian adalah tumbuhan dari marga (genus) Durio, Nesia, Lahia, Boschia dan Coelostegia. Ada puluhan durian yang diakui keunggulannya dan disebarluaskan kepada masyarakat untuk dikembangkan. Varietas tersebut adalah: durian sukun (Jawa Tengah), petruk (Jawa Tengah), sitokong (Betawi), simas (Bogor), sunan (Jepara), otong (Thailand), kani (Thailand), sidodol (Kalimantan Selatan), sijapang (Betawi) dan sihijau (Kalimantan Selatan).

Manfaat durian selain sebagai makanan buah segar, terdapat manfaat lainnya, yaitu:
1) Tanamannya sebagai pencegah erosi di lahan-lahan yang miring.
2) Batangnya untuk bahan bangunan/perkakas rumah tangga. Kayu durian setaraf dengan kayu sengon sebab kayunya cenderung lurus.
3) Bijinya yang memiliki kandungan pati cukup tinggi, berpotensi sebagai alternatif pengganti makanan (dapat dibuat bubur yang dicampur daging buahnya).
4) Kulit dipakai sebagai bahan abu gosok yang bagus, dengan. cara dijemur sampai kering dan dibakar sampai hancur.
Untuk dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan panen maksimal, durian memerlukan beberapa syarat tumbuh. Syarat tumbuh tersebut antara lain iklim, media tanam dan ketinggian tempat.

Iklim
1) Curah hujan untuk tanaman durian maksimum 3000-3500 mm/tahun dan minimal 1500-3000 mm/tahun. Curah hujan merata sepanjang tahun dengan kemarau 1-2 bulan sebelum berbunga lebih baik daripada hujan terus menerus.
2) Intensitas cahaya matahari yang dibutuhkan durian adalah 60-80%. Sewaktu masih kecil (baru ditanam di kebun), tanaman durian tidak tahan terik sinar matahari di musim kemarau, sehingga bibit harus dilindungi/dinaungi.
3) Tanaman durian cocok tumbuh pada suhu rata-rata 20-30 0 C, suhu 15 0 C durian dapat tumbuh tetapi pertumbuhan tidak optimal. Apabila suhu mencapai 35 0 C daun durian akan terbakar.

Media Tanam
1. Tanaman durian menghendaki tanah yang subur (tanah yang kaya bahan organik). Partikel penyusunan tanah seimbang antara pasir liat dan debu sehingga mudah membentuk remah.
2. Tanah yang cocok untuk durian adalah jenis tanah grumosol dan andosol. Tanah yang memiliki ciri-ciri warna hitam keabu-abuan kelam, struktur tanah lapisan atas berbutir-butir, sedangkan bagian bawah bergumpal dan mempunyai kemampuan yang tinggi untuk mengikat air.
3. Derajat keasaman tanah yang dikehendaki tanaman durian adalah (pH) 5-7, dengan pH optimum 6-6,5.
4. Tanaman durian termasuk tanaman tahunan dengan perakaran dalam sehingga membutuhkan kandungan air tanah dengan kedalam cukup yaitu 50-150 cm dan 150-200 cm. Jika kedalaman air tanah terlalu dangkal/ terlalu dalaman, rasa buah tidak manis atau tanaman akan kekeringan dan atau akarnya busuk akibat selalu tergenang.
Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat untuk bertanam durian tidak boleh lebih dari 800 m dpl. Tetapi ada
juga tanaman durian yang cocok ditanam di berbagai ketinggian. Tanah yang berbukit/yang kemiringannya kurang dari 15 derjat kurang praktis daripada lahan yang datar rata.  (Oleh : Syahrinaldi, DKPP Kab. Bintan , Kepulauan Riau )
Sumber : cybex pertanian.go.id.

Rabu, 19 Juni 2019

Pemeliharaan Tanaman Pisang




Tanaman pisang sekali kita tanam jauh lebih repot membasmi daripada menanamnya. Begitulah tanaman bandel ini, dibiarkan pun tetap akan menghasilkan buah, mungkin itulah yang menyebabkan kebanyakan petani agak enggan merawat tanaman pisangnya. Padahal dengan sejumlah masukan teknologi yang telah dipublikasikan pisang ambon atau buai yang dipelihara dengan baik mampu menghasilkan buah minimal 30 kg/tandan,

Beberapa kegiatan perawatan/pemeliharaan yang perlu mendapat perhatian adalah :
1). Pemangkasan, pemangkasan daun kering bertujuan untuk pencegahan penularan penyakit, mencegah daun-daun yang tua menutupi anakan dan melindungi buah dari goresan daun. Saat pembungaan setidaknya ada 6-8 daun sehat, agar perkembangan buah menjadi maksimal. Setelah pemangkasan bunga jantan dilakukan sebaiknya tidak dilakukan pemangkasan daun lagi, daun bekas pangkasan dari tanaman sakit dikumpulkan dan kemudian dibakar. Alat pemangkasan sebaiknya disterilkan dengan desinfektan misalnya menggunakan bayclean atau alkohol.

2). Penyiangan dan Penggemburan Tanah, tanah disekitar pohon pisang harus dibersihkan dari rumput pengganggu/gulma, sekaligus digemburkan dengan cangkul kecil (koret). Penggemburan tanah tidak boleh terlalu dalam karena perakaran pisang itu dangkal dan pekerjaan dilakukan sesuai dengan kondisi kebun. Bila gulma tidak banyak maka yang perlu dilakukan adalah penggemburan tanah agar perakaran dan bonggol pisang bisa berkembang dengan baik.

Pengendalian gulma secara mekanis terutama dilakukan pada saat tanaman berumur 1 sampai 5 bulan, terutama 3 bulan pertama pengendalian gulma harus dilakukan secara intensif. Setelah tanaman berumur 5 bulan pengendalian mulai dikurangi karena kanopi tanaman telah saling menutupi sehingga dapat menekan pertumbuhan gulma. Penyiangan dilakukan selang waktu 2-3 bulan.

Saat ini pengendalian gulma dapat dilakukan dengan herbisida karena tanaman sudah cukup tinggi sehingga daun tanaman tidak terkena herbisida seperti DMA G, Paracol dan Herbisol sesuai dosis anjuran di kemasan. Penggunaan herbisida umumnya tergantung pada musim, musim kering menggunakan herbisida sistemik dan musim hujan menggunakan herbisida kontak. Kebersihan kebun di bawah tanaman pisang penting sekali, karena gulma dan sisa-sisa batang pisang yang ada dapat merupakan sarang hama penggerek batang. Hati-hati dengan penggunaan tanaman penutup tanah seperti Centrosema, Indigofera dan lain-lain yang dapat bersifat racun terhadap tanaman pisang.

3).Pembumbunan, perlu dilaksanakan bila umb i pisang muncul ke permukaan tanah, demikian juga pada waktu tanaman pisang menghasilkan rumpun (beranak). Hal ini dimaksudkan agar perakaran bisa berkembang lebih baik sekaligus memperkuat pertumbuhan tanaman pisang.

4). Pengairan, perakaran tanaman pisang dangkal, dekat dengan permukaan tanah namun tanaman ini tahan terhadap kekeringan atau kekurangan air karena perakarannya banyak mengandung air. Apabila tandan buah keluar pada musim kemarau, maka tandannya pendek pendek dan kecil-kecil.

5) Penjarangan Anakan, bertujuan untuk mengurangi jumlah anakan, menjaga jarak tanam dan menjaga agar produksi tidak menurun. Penjarangan anakan dilakukan dengan memelihara 1 tanaman induk (umur 9 bulan), 1 anakan (umur 7 bulan) dan 1 anakan muda (umur 3 bulan) yang dilakukan rutin setiap 6 - 8 minggu.

Anakan yang dipilih atau disisakan adalah anakan yang terletak pada tempat terbuka dan yang terletak diseberangnya, jadi setiap rumpun supaya dijaga tinggal 3 anakan, yang lain dibuang hati-hatibsupaya hasilnya tinggi. Setelah bunga terakhir pada jantung mekar yang ditandai dengan pertumbuhan uler pisang lambat sekali segera sisa jantung dipotong. Pemotongan jantung pisang dapat meningkatkan produksi buah antara 2 - 5%.

6). Perawatan Tandan, membersihkan daun sekitar tandan terutama daun yang sudah kering dan membuang buah pisang yang tidak sempurna pada 1-2 sisir terakhir, diikuti dengan pemotongan bunga jantan agar buah pada tandan diatasnya dapat tumbuh dengan baik. Buah dibungkus/dikerodong dengan kantong plastik warna biru ukuran 1m x 45 cm. Hal ini dilakukan untuk melindungi buah darin kerusakan oleh serangga atau karena gesekan daun.

Setelah dibungkus tandan yang mempunyai masa pembuahan sama dapat diberi tanda (misal dengan tali rafia yang sama0. Hal ini untuk menentukan waktu panen yang tepat sehingga umur dan ukuran buah seragam. Sebelum buah dipanen agar tanaman tidak roboh dapat ditopang dengan bambu atau dengan mengikat pangkal tandan dengan kabel atau tali yang dibentang diantara barisan tanaman pisang.

7). Sanitasi Kebun, bertujuan untuk menjaga lingkungan kebun tetap sehat, sehingga pertumbuhan tanaman dapat berlangsung dengan baik. Sanitasi dilakukan 45 hari sekali meliputi kegiatan pembersihan daun kering, penjarangan anakan dan pembuangan sisa tanaman bekas panen.  (Oleh : Syahrinaldi , DKPP Kab. Bintan, Kepulauan Riau ). Sumber : cybex pertanian.go.id 

Jumat, 24 Mei 2019

Budidaya Tanaman Seledri




Seledri dikembangbiakkan dengan biji. Oleh karena itu, untuk mendapat pertumbuhan dan produksi yang baik, maka harus ditunjang dengan benih yang baik pula. Beberapa jenis seledri seperti parsley dan celery, bibitnya umumnya didatangkan dari luar negeri. Sebelum disemaikan, sebaiknya biji seledri direndam dalam air dengan suhu 50°C dan bisa ditambah dengan pestisida yang berbahan Fipronil  selama 15 menit untuk merangsang perkecambahan. Benih-benih ini kemudian ditaburkan pada alur-alur dalam kotak atau bedeng persemaian. Jarak antar alur 2 cm dan dalamnya 0,5 cm. Alur lalu ditutup setipis mungkin dengan tanah agar mudah berkecambah.

 Pengolahan tanah dilakukan sebelum tanaman di persemaian dipindahkan ke lahan. Tanah dibajak atau dicangkul, diberi pupuk kandang sebanyak 15 ton/ha, selain pemberian pupuk kandang juga ditambahkan pupuk kimia yaitu urea 435 kg/ha, TSP 400 kg/ha, dan KCl 300 kg/ha. setelah itu tanah digemburkan, serta dibuat bedengan-bedengan. Lebar bedengan 1 m dan panjangnya disesuaikan dengan keadaan lahan. Bedengan-bedengan itu kemudian disiram dengan air secukupnya, lalu didiamkan selama seminggu sehingga reaksi-reaksi di dalam tanah menjadi stabil.

Setelah berumur 2 minggu, bibit seledri sudah dapat dipindahkan ke bedengan yang telah disiapkan. Jarak tanam yang digunakan tergantung jenisnya, tetapi umumnya digunakan jarak tanam (20 x 20) cm.

Hama yang sering menyerang pertanaman seledri adalah sebagai berikut. NEMATODA Bagian tanaman yang diserang adalah akar sehingga tampak berbintil-bintil besar atau kecil. Keadaan ini akan mengganggu aktivitas akar dalam penyerapan air dan unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman. Serangan yang berat pada saat tanaman muda dapat menyebabkan tanaman tumbuh kerdil. Hama ini dapat dikendalikan dengan insektisida berbahan aktif karbofuron dosis 20 kg/ha . KUTU DAUN (APHID) Hama ini menimbulkan kerusakan pada daun. Daun muda yang terserang menjadi kuning dan akhirnya mengering. Akibatnya, pertumbuhan tanaman terhambat. Hama ini dapat diberantas dengan insektisida Berbahan aktif abamektin dengan dosis 0,5-1 ml/l air.

 Penyakit pada seledri berupa bercak-bercak klorosis dan nekrosis yang bisa meluas pada daun dan tangkai daun. Pada bagian yang mengalami nekrosis tampak bintik-bintik hitam. Sedangkan pada tangkai daun bercak cokelat tampak memanjang. Penyakit ini dinamakan late night yang disebabkan oleh cendawan Septoria sp penyakit ini bisa di kendalikan dengan fungisida berbahan aktif pyraclostobin atau fungisida dari golongn stobilurin.. Penyakit lain yang juga sering menyerang adalah bakterial soft rot yang disebabkan oleh Erwinia carotovora. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan penyemprotan fungisida berbahan aktif mankozeb atau simoksanil. Namun, jika tanaman telah terserang, sebaiknya dicabut dan dimusnahkan.

Oleh : Syahrinaldi, DKPP Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.

Sumber : Internet

Rabu, 09 Januari 2019

SL PTT TANAMAN BAWANG MERAH DI DESA EKANG ANCULAI









Dinas Pertanian Kabupaten Bintan melaksanakan kegiatan SL PTT (Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman  Terpadu) pada komoditi Bawang Merah . Kegiatan Sekolah Lapang  ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan petani tentang budidaya tanaman Bawang Merah dan juga untuk merubah sikap petani agar berminat untuk menanam tanaman Bawang Merah. 

Kegiatan Sekolah Lapang ini dilaksanakan di Kelompok Tani Jaya Patih , Desa Ekang Anculai , Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Kegiatan Sekolah Lapang ini dilaksanakan sebanyak 5 kali pertemuan pada bulan November 2018.

Bawang merah saat ini merupakan salah satu komoditas pertanian yang cukup favorit. Pasalnya, semakin hari harga bawang merah semakin melambung. Terutama ketika musim hujan berlangsung cukup lama. Secara umum di dalam budi daya bawang merah terdapat 4 tahapan, yaitu pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan  dan pemanenan.

1. Pengolahan Tanah
Pada budi daya bawang merah, secara umum pengolahan tanah terdiri dari 3 perlakuan, yaitu persiapan lahan, pembuatan bedengan dan pemberian pupuk dasar.
• Persiapan lahan
Perlakuan persiapan lahan ini adalah membersihkan sisa-sisa tanaman dan gulma serta penggemburan tanah. Setelah pembersihan gulma selesai dilakukan, selanjutnya mengecek tingkat keasaman (pH) tanah. Jika pH tanah di bawah 5,6 dilakukan pemberian kapur Dolomit dengan dosis 1-1,5 ton/ha. Pengapuran dilakukan minimal 2 minggu sebelum tanam.
• Pemupukan dasar
Pemupukan dasar dilakukan satu minggu sebelum tanam. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang. Pemupukan dilakukan dengan cara menaburkan pupuk kandang dengan dosis 15-20 ton/ha pupuk kandang. Jika menggunakan pupuk kompos (matang) diperlukan 5-10 ton/ha. Tambahkan pupuk NPK (15-15-15) dengan dosis 200 kg/ha. Untuk mencegah penyakit layu akibat jamur dapat diaplikasikan fungisida.
• Pembuatan bedengan
Bedengan dibuat dengan ukuran sesuai kebutuhan. Umumnya bedengan di buat dengan lebar 1,5-1,75 m. Di antara bedeng yang satu dengan yang lain di buat parit dengan jarak 0,5 m dan kedalamannya sekitar 0,5 m.


2. Jadwal Tanam
Jadwal tanam bawang merah meliputi :
• Pemilihan bibit
Bawang merah yang digunakan sebagai bibit sebaiknya dipilih yang mengkilat, umbi kompak dan tidak keropos. Selain itu kulit umbi bawang tidak luka dan telah disimpan 2-3 bulan setelah panen. Untuk memecahkan masa dormansi dan mempercepat pertumbuhan tunas, sebaiknya bibit di potong di bagian pucuknya kurang lebih 0,5 cm. Varietas bibit bawang merah yang di tanam juga harus di perhatikan. Pada musim hujan sebaiknya menanam varietas Ilocos, dan pada musim hujan sebaiknya menanam varietas Tiron.
• Menentukan jarak tanam
Jarak tanam bawang merah umumnya berdasarkan pada musim saat tanam di mulai. Pada penanaman bawang merah di musim kemarau, jarak tanam 15x15 cm. Sedangkan pada musim hujan, jarak tanam 15x20 cm atau 20x20 cm.
• Cara menanam
Bawang merah, sebelum di tanam, disarankan bibit diberi perlakuan khusus yaitu dengan merendam bibit dalam larutan  ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) lalu tiriskan hingga kering. Penanaman dilakukan dengan cara membenamkan seluruh bagian umbi ke dalam tanah. Satu umbi untuk satu lubang tanam.


3. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman meliputi :
• Penyiraman
Penyiraman dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore. Setelah tanaman berusia 12-60 hari penyiraman dilakukan 1 kali saja. Bisa dilakukan pagi atau sore hari.
• Penyiangan
Penyiangan dilakukan dengan cara membersihkan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman bawang merah.
• Pembumbunan
Jika terdapat perakaran tanaman bawang merah keluar dari media tanam, pembumbunan (penutupan perakaran dengan media tanam) segera dilakukan.


4. Pemupukan susulan
Pemupukan susulan dilakukan pada umur 10-15 hari dan umur 30-35 hari setelah tanam. Jenis dan dosis pupuk yang diberikan adalah : Urea 75-100 kg/ha, ZA 150-250kg/ha, Kcl 75-100 kg/ha. Pupuk diaduk rata dan diberikan di sepanjang areal tanaman.


5. Pengendalian hama dan penyakit
Ada beberapa jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman bawang merah. Ada yang disebabkan oleh virus, jamur, bakteri atau ulat.  Untuk penyakit yang disebabkan oleh jamur dapat dikendalikan dengan pemberian fungisida pada saat pengolahan tanah ataupun saat bibit akan di tanam.  Untuk penyakit karena virus atau bakteri dapat dikendalikan dengan menggunakan pestisida dan bakterisida. Sedangkan serangan hama ulat dapat disemprot dengan insektisida.

6. Masa Panen
Ciri tanaman bawang merah yang siap dipanen adalah jika daun tanaman sudah rebah 60-90% atau setelah tanaman berumur 55 hingga 90 hari (tergantung varietas). Budi daya bawang merah yang dilakukan di dataran rendah biasanya masa panennya berumur 55-70 hari. Sedangkan budi daya bawang merah di dataran tinggi, masa penennya berumur 70-90 hari.
Panen sebaiknya dilakukan pagi hari dengan cara mencabut keseluruh bagian tanaman dari daun, batang hingga umbi dan di ikat menjadi satu kesatuan yang terdiri dari 5 hingga 10 umbi. Setelah panen selesai, ikatan bawang merah di jemur dengan posisi umbi di bagian atas hingga kering. Setelah kering, ikatan umbi bawang di bersihkan dari tanah dan kotoran sebelum di simpan atau di pasarkan.


Para peserta yang ikut kegiatan Sekolah Lapang ini adalah dari berbagai kelompok tani yang ada di Desa Ekang Anculai , Kecamatan Teluk Sebong, para peserta Sekolah Lapang ini berjumlah 15 orang. ( Oleh , Syahrinaldi, Penyuluh Pertanian di Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.)