Sabtu, 10 Februari 2018

MENGGUNAKAN BENIH UNGGUL PADA TANAMAN KEDELAI





Benih merupakan salah satu sarana produksi yang sangat penting untuk meningkatakan produktivitas tanaman kedelai. Kegiatan awal dari usaha tani kedelai yaitu persiapan benih yang akan ditanam. Kegagalan dalam persiapan atau penyediaan benih bermutu dapat menurunkan produktivitasnya.

Varietas unggul baru (VUB) umumnya berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama penyait utama atau toleran terhadap deraan di lingkungan setempat dan memiliki sifat khusus tertentu. VUB kedelai antara lain adalah Argomulyo, Anjasmoro, Grobogan, Gepak kuning dan Detam 1.

Pemilihan varietas perlu disesuaikan dengan agroekosistem setempat dan perminataan pengguna, misalnya ukuran biji (sedang -besar), umur ( genjah-sedang), dan kegunaan ( bahan baku tahu, tempe, kecap, dan taoge).
 Umur tanaman dikelompokan menjad tiga yaitu genjah (70-75 hari), sedang ( 80-95 hari) dan dalam ( >95 hari). Keuntungan penanaman varietas genjah dan berumur sedang adalah lebih cepat dipanen, risiko serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) lebih rendah dan meningkat indeks panen.

Menurut ukuran biji, varietas kedelai dibedakan ke dalam varietas berbiji kecil (<10 g/100 biji) dan besar (>12 g/100 biji). Untuk produk tahu dan tempe, kedelai yang banyak digunakan adalah yang berbiji sedang sampai besar. Kedelai yang berbiji kecil cocok digunakan untuk bahan baku sayur kecambah.
 Setiap varietas memiliki daya adaptasi berbeda antar-agroekosistem, seperti lahan sawah/tegal, lahan masam dan lahan pasang surut. Benih bermutu adalah benih dengan tingkat kemurnian dan daya tumbuh yang tinggi (> 85 %). Pada umumnya benih bermutu dapat diperoleh dari benih berlabel yang sudah lulus proses sertifikasi. Benih bermutu akan menghasilkan bibit yang sehat dengan akar yang banyak.
 
Usaha yang bisa dilakukan untuk memperoleh mutu benih yang baik yaitu dengan pengumpulan informasi asal benih dan seleksi atau pemurnian benih yang beredar di lapangan. Seleksi benih didasarkan pada karakter atau deskripsi dari varietas yang akan digunakan sebagai benih. Penyeleksian juga harus dilakukan secara insentif.

Ciri-ciri benih kedelai bermutu secara fisik sebagai berikut
a. tidak tercampur dengan kotoran atau benda lain, seperti kerikil, potongan batang atau tangkai tanaman dan biji lain.
b. Benih murni tidak tercampur dengan benih varietas lain
c. Warna biji cerah mengilat dan tidak kusam
d. Benih tidak retak, tidak pecah dan tidak ada bercak.
e. Ukuran biji seragam dan bernas.

Ada empat tahapan kelas benih yang harus dilalui agar benih tersebut mempunyai mutu yang baik dan dapat beredat di petani yaitu kelas benih penjenis, benih dasar, benih pokok, dan benih sebar. (Oleh : Syahrinaldi, Dinas Pertanian Kab. Bintan, Kepulauan Riau)
Sumber : cybex.pertanian.go.id


Kamis, 12 Oktober 2017

TEMU USAHA PENINGKATAN KEMAMPUAN KELEMBAGAAN PETANI





Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau mengadakan kegiatan Temu Usaha Peningkatan Kemampuan Lembaga Petani Dalam Rangka Peningkatan Mutu Produk Pangan Olahan. Kegiatan temu usaha ini dilaksanakan untuk meningkatkan mutu produk pangan olahan yang dihasilkan oleh Kelompok Wanita Tani yang ada di Kabupaten Bintan.

Sekarang ini ada sebagian produk pangan olahan yang mutunya belum  begitu baik, misalnya belum dilengkapi dengan Nomor P-IRT, belum adanya Sertifikat Halal , sehingga melalui kegiatan ini diharapkan masalah tentang Nomor P-IRT dan sertifikasi halal bisa segera diatasi.

Kegiatan temu usaha ini dilaksanakan di Aula Kantor Camat Toapaya Kabupaten Bintan. Temu usaha peningkatan kemampuan lembaga petani ini dilaksanakan pada hari Kamis , 20 Juli 2017. Dalam kegiatan tersebut hadir para pengurus Kelompok Wanita Tani yang ada di Kabupaten Bintan. Selain itu juga hadir dinas atau instansi yang terkait, seperti Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Bintan, Dinas Perindustrian  dan Perdagangan Kabupaten Bintan, BPOM Provinsi  Kepulauan Riau  dan MUI Kabupaten Bintan.

Dalam kegiatan tersebut narasumber dari BPOM Provinsi Kepulauan Riau menyampaikan tentang keamanan pangan.  Keamanan Pangan   adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia.

Higiene Sanitasi Jasaboga adalah upaya untuk mengendalikan faktor risiko terjadinya kontaminasi terhadap makanan, baik yang berasal dari bahan makanan, orang, tempat dan peralatan agar aman dikonsumsi.

Higiene dan sanitasi adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara kebersihan individu. Misalnya mencuci tangan untuk melindungi kebersihan tangan, cuci piring untuk melindungi kebersihan piring, membuang bagian makanan yang rusak untuk melindungi keutuhan makanan secara keseluruhan.

Sanitasi makanan adalah salah satu usaha pencegahan yang menitik beratkan kegiatan dan  tindakan yang perlu untuk membebaskan makanan dari segala bahaya yang dapat mengganggu atau merusak kesehatan, mulai dari sebelum makanan diproduksi, selama dalam proses pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, sampai pada saat dimana makanan tersebut siap untuk dikonsumsikan   kepada masyarakat atau konsumen. Sanitasi makanan ini bertujuan   untuk menjamin keamanan dan kemurnian makanan, mencegah konsumen dari penyakit, mencegah penjualan makanan yang akan  merugikan pembeli, mengurangi kerusakan makanan.

Ada lima langkah berikut ini harus dilakukan dalam upaya pemeliharaan sanitasi makanan: (1)  penggunaan alat pengambil makanan. Sentuhan tangan merupakan penyebab yang paling umum terjadinya pencemaran makanan. Mikroorganisme yang melekat pada tangan akan berpindah ke dalam makanan dan akan berkembang biak dalam makanan, terutama dalam makanan jadi. (2)   penjagaan makanan dari kemungkinan pencemaran. Makanan atau bahan makanan harus disimpan di tempat yang tertutup dan terbungkus dengan baik sehingga tidak memungkinkan terkena debu. (3)  penyediaan lemari es. Banyak bahan makanan dan makanan jadi yang harus disimpan dalam lemari es agar tidak menjadi rusak atau busuk. (4)  pemanasan makanan yang harus dimakan dalam keadaan panas. Jika makanan menjadi dingin mikroorganisme akan tumbuh dan berkembang biak dengan cepat. (5)  jangan menyimpan makanan  terlalu lama. Jarak waktu penyimpanan makanan selama 3 atau 4 jam sudah cukup bagi berbagai bakteri untuk berkembang.

Terkait dengan proses sertifikasi halal , maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, (1) Kebijakan Halal, Manajemen Puncak harus menetapkan Kebijakan Halal dan mensosialisasikan kebijakan halal kepada seluruh pemangku kepentingan (stake holder) perusahaan. (2) Tim Manajemen Halal , Manajemen Puncak harus menetapkan Tim Manajemen Halal yang mencakup semua bagian yang terlibat dalam aktivitas kritis serta memiliki tugas, tanggungjawab dan wewenang yang jelas. (3).  Pelatihan dan Edukasi, Perusahaan harus mempunyai prosedur tertulis pelaksanaan pelatihan. Pelatihan internal harus dilaksanakan minimal setahun sekali dan pelatihan eksternal harus dilaksanakan minimal dua tahun sekali. (4). Bahan, Bahan yang digunakan dalam pembuatan produk yang disertifikasi tidak boleh berasal dari bahan haram atau najis. Perusahaan harus mempunyai dokumen pendukung untuk semua bahan yang digunakan, kecuali bahan tidak kritis atau bahan yang dibeli secara retail. (5) Produk, Karakteristik/profil sensori produk tidak boleh memiliki kecenderungan bau atau rasa yang mengarah kepada produk haram atau yang telah dinyatakan haram berdasarkan fatwa MUI. Merk/nama produk yang didaftarkan untuk disertifikasi tidak boleh menggunakan nama yang mengarah pada sesuatu yang diharamkan atau ibadah yang tidak sesuai dengan syariah Islam. Produk pangan eceran (retail) dengan merk sama yang beredar di Indonesia harus didaftarkan seluruhnya untuk sertifikasi, tidak boleh jika hanya didaftarkan sebagian. (6)  Fasilitas Produksi,  Industri pengolahan: (i) Fasilitas produksi harus menjamin tidak adanya kontaminasi silang dengan bahan/produk yang haram/najis; (ii) Fasilitas produksi dapat digunakan secara bergantian untuk menghasilkan produk yang disertifikasi dan produk yang tidak disertifikasi selama tidak mengandung bahan yang berasal dari babi/turunannya, namun harus ada prosedur yang menjamin tidak terjadi kontaminasi silang.

Kegiatan temu usaha peningkatan kemampuan lembaga petani ini dihadiri sekitar 100 orang peserta. (Oleh , Syahrinaldi, Dinas Pertanian Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau ).










Minggu, 30 Oktober 2016

WORKSHOP PENYULUH , EKSPOSE DAN BAZAR TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN BERBASIS KEPULAUAN




Loka Pengkajian Teknologi Pertanian (LPTP) Provinsi Kepulauan Riau  mengadakan kegiatan Workshop penyuluh , ekspose, bazar,  teknologi hasil pertanian berbasis kepulauan. Kegiatan Workshop ini dilaksanakan untuk menyebarluaskan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh LPTP Provinsi Kepulauan Riau yang telah dihasilkan selama ini. Acara Workshop ini dilaksanakan di Hotel Plaza Tanjungpinang, dan berlangsung pada tanggal 26 – 28 September 2016.
Kegiatan Workshop penyuluh , ekspose, bazar,  teknologi hasil pertanian  berbasis kepulauan ini di buka oleh Kepala Dinas Pertanian , Kehutanan, Peternakan Provinsi Kepulauan Riau yang  mewakili Gubernur Kepulauan Riau. Acara pembukaan Workshop dilaksanakan di halaman gedung LPTP Provinsi Kepulauan Riau.  Turut hadir dalam kegiatan tersebut adalah para Penyuluh Pertanian Lapangan yang berasal dari  kabupaten/kota di lingkungan Provinsi Kepulauan Riau.
Untuk kegiatan Bazarnya cukup ramai di kunjungi oleh warga sekitar yang ingin membeli produk-produk yang dipamerkan, misalnya produk hortikultura.  
Terkait dengan kegiatan Workshop maka ini dilaksanakan di Hotel Plaza Tanjungpinang. Dalam acara tersebut Narasumber menyampaikan bahwa  Penyuluhan pertanian merupakan suatu upaya atau proses kegiatan yang dilakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat dan petani. Efektivitas penyuluhan pertanian ditentukan oleh komponen-komponen dalam sistem penyuluhan pertanian, diantaranya yaitu  bagaimana  memilih metode penyuluhan pertanian yang baik.
Metode yang efektif harus dipilih dan ditetapkan berdasarkan karakteristik sasaran, sumberdaya yang dimiliki, materi, dan tujuan yang ingin dicapai. Dalam menerapkan metode penyuluhan pertanian terdapat kaidah-kaidah yang harus diikuti oleh penyuluh pertanian sehingga metode menjadi efektif. Berkaitan dengan itu, diperlukan kompetensi menerapkan metode penyuluhan pertanian.
Adapun tujuan metode penyuluhan pertanian adalah untuk meningkatkan efektivitas penyuluhan pertanian dengan pemilihan metode  yang tepat, sesuai  dengan kebutuhan dan kondisi sasarannya, dimana penyuluh pertanian dapat menetapkan suatu metode atau kombinasi beberapa  metode  yang tepat  dan berhasil  guna. Dengan demikian kegiatan penyuluhan pertanian yang dilaksanakan untuk  menimbulkan perubahan yang dikehendaki.
Metode Penyuluhan Pertanian adalah cara penyampaian materi (isi pesan) penyuluhan pertanian oleh penyuluh pertanian kepada petani beserta anggota keluarganya baik secara langsung maupun tidak langsung agar mereka tahu, mau dan mampu menggunakan inovasi baru. Umumnya pesan terdiri dari sejumlah simbol dan isi pesan inilah yang memperoleh perlakuan. Bentuk perlakuan tersebut memilih, menata, menyederhanakan, menyajikan, dll. Dilain pihak simbol dapat diartikan  kode-kode  yang digunakan  pada pesan.  Simbol yang mudah diamati  dan paling banyak digunakan  yaitu bahasa. 
Dengan demikian tujuan pemilihan metode penyuluhan adalah: 1) agar penyuluh pertanian dapat menetapkan suatu metode atau kombinasi beberapa metode yang tepat dan berhasilguna, 2) agar kegiatan penyuluhan pertanian yang dilaksanakan untuk menimbulkan perubahan yang dikehendaki  yaitu perubahan perilaku petani dan anggota keluarganya dapat berdayaguna dan berhasilguna.
Menurut Mardikanto (1999) menyatakan bahwa merujuk pada pemahaman penyuluhan pertanian sebagai proses pembelajaran, maka prinsip-prinsip dalam penyuluhan pertanian sebagai berikut, (1) Mengerjakan; artinya kegiatan penyuluhan harus sebanyak mungkin melibatkan masyarakat untuk menerapkan sesuatu. (2) Akibat; artinya kegiatan pertanian harus memberikan dampak yang memberi pengaruh baik. (3) Asosiasi; artinya kegiatan penyuluhan harus saling terkait dengan kegiatan lainnya.  Misalnya apabila seorang petani berjalan di sawahnya kemudian melihat tanaman padinya terserang hama, maka ia akan berupaya untuk melakukan tindakan pengendalian.
Dalam kegiatan penyuluhan pertanian disampaikan bermacam-macam informasi tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pertanian, karena penggunaan teknologi  membawa manfaat yang sangat  banyak untuk kemajuan  pertanian.
Manfaat yang dapat diperoleh melalui kegiatan aplikasi teknologi informasi dan komunikasi  (Mulyandari 2005), khususnya dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan di antaranya adalah, (1). Mendorong terbentuknya jaringan informasi pertanian di tingkat lokal dan nasional. (2). Membuka akses petani terhadap informasi pertanian untuk Meningkatkan peluang potensi peningkatan pendapatan dan cara pencapaiannya, Meningkatkan kemampuan petani dalam meningkatkan posisi tawarnya, (3).  Mendorong terlaksananya kegiatan pengembangan, pengelolaan dan pemanfaatan informasi pertanian secara langsung maupun tidak langsung untuk mendukung pengembangan pertanian lahan marjinal. (4).   Memfasilitasi dokumentasi informasi pertanian di tingkat lokal (indigeneous knowledge) yang dapat diakses secara lebih luas untuk mendukung pengembangan pertanian lahan marjinal.
Petani perlu memanfaatkan dengan optimal teknologi-teknologi alternatif tersebut sehingga mereka tidak ketinggalan informasi dan dapat mengembangkan pertaniannya. Informasi yang didapatkan dapat menjadi acuan pengembangan dalam budidaya maupun pengolahan pasca panen. Tentu saja hal yang kita harapkan adalah peningkatan produktivitas dan nilai tambah yang merupakan ciri pertanian modern dapat tercapai.
Keterlibatan dari penyedia informasi tentu sangat penting. Universitas-universitas, lembaga penelitian di bidang pertanian, LSM, dan pemerintah harus secara proaktif menyediakan layanan-layanan informasi melalui internet yang saat ini cukup murah dan terjangkau dari sisi penyedia informasi. Permasalahannya adalah kita harus bersama-sama saling melengkapi untuk memberikan yang terbaik bagi para petani kita, agar kesejahteraan mereka meningkat.
Letak geografis Provinsi Kepulauan Riau yang berpulau-pulau (kepulauan) maka ini merupakan sebuah tantangan dalam menyebarkan informasi teknologi pertanian ke kelompok tani. Sehingga perlu dibuat sebuah terobosan agar informasi teknologi pertanian bisa sampai ke kelompok tani, salah satu terobosan yang patut dikembangkan adalah dengan menggunakan internet. Dari suatu survey yang dilakukan oleh sebuah lembaga diketahui bahwa 74% petani kita memiliki HP dan dari 74% itu , ada sekitar 12% petani kita yang menggunakannya untuk akses internet.  Walaupun jumlahnya masih kecil (sekitar 12%) tetapi kedepan penggunaan internet untuk menyebarkan informasi teknologi pertanian bisa menjadi alternatif yang cukup penting karena adanya kecenderungan bahwa jumlah pengguna internet tiap tahunnya akan selalu bertambah. Jadi ini adalah peluang dan sekaligus tantangan bagi kita semua. (Oleh : Syahrinaldi, BPPKP Kab. Bintan, Provinsi Kepulauan Riau).


Rabu, 13 April 2016

PELATIHAN PEMBIBITAN TANAMAN BAWANG MERAH


 
Loka Pengkajian Teknologi Pertanian (LPTP) Provinsi kepulauan Riau mengadakan kegiatan pelatihan pembibitan Bawang Merah. Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan agar petani Bawang Merah bisa menghasilkan bibit Bawang Merah sendiri , sehingga mereka tidak lagi tergantung pada bibit yang saat ini masih didatangkan dari luar.
Kegiatan pelatihan pembibitan Bawang Merah ini dilaksanakan di kelompok tani Makaryo Kelurahan Toapaya Asri , Kecamatan Toapaya Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau.  Kegiatan ini diadakan pada hari Jum’at, 11 September 2015. Kegiatan pelatihan ini berlangsung selama 1 hari mulai dari jam 8.30 sampai dengan jam 05.00 sore.
Selain dari pihak LPTP , turut hadir juga para petani, Penyuluh Pertanian yang bertugas di Kecamatan Toapaya, serta peneliti dari Balitsa. Jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan pelatihan tersebut berjumlah 25 orang. Kegiatan pelatihan ini dilakukan melalui ceramah dan diskusi . Dalam kesempatan tersebut narasumber menyampaikan bahwa untuk menghasilkan bibit Bawang Merah yang baik maka yang harus dilakukan adalah  pemeliharaan yang baik juga terhadap tanaman induknya . Dengan melakukan perawatan yang baik pada tanaman induk maka diharapkan akan dihasilkan bibit Bawang Merah (umbi) yang berkualitas.  
Budidaya bawang merah memerlukan penyinaran matahari lebih dari 12 jam sehari. Tanaman ini cocok dibudidayakan di dataran rendah dengan ketinggian 0 hingga 900 meter dari permukaan laut. Suhu optimum untuk perkembangan tanaman bawang merah berkisar 25-32 derajat celcius. Sedangkan keasaman tanah yang dikehendaki sekitar pH 5,6-7. Varietas benih untuk budidaya bawang merah cukup banyak. Ada benih lokal hingga benih hibrida impor. Bentuk benihnya ada yang dari biji, ada juga berupa umbi. Kebanyakan budidaya bawang merah di sentra-sentra produksi menggunakan umbi sebagai benih.
Benih bawang merah yang baik berasal dari umbi yang dipanen tua, lebih dari 80 hari untuk dataran rendah dan 100 hari dataran tinggi. Benih bawang merah yang baik setidaknya telah disimpan 2-3 bulan. Ukuran benih sekitar 1,5-2 cm dengan bentuk yang bagus, tidak cacat, berwarna merah tua mengkilap. Kebutuhan benih untuk budidaya bawang werah tergantung dengan varietas, ukuran benih dan jarak tanam. Untuk jarak tanam 20×20 dengan bobot umbi 5 gram dibutuhkan sekitar 1,4 ton benih per hektar. Untuk bobot yang sama dengan jarak tanam 15×15 dibutuhkan 2,4 ton per hektar.
Tanah dibuat bedengan dengan lebar 1-1,2 meter, tinggi 20-30 cm dan panjang sesusai dengan kondisi kebun. Jarak antar bedengan 50 cm, sekaligus dijadikan parit sedalam 50 cm. Cangkul bedengan sedalam 20 cm, gemburkan tanahnya. Bentuk permukaan atau bagian atas bedengan rata, tidak melengkung. Tambahkan kapur atau dolomit sebanyak 1-1,5 ton per hektar apabila keasaman tanah kurang dari pH 5,6. Penambahan kapur setidaknya diberikan 2 minggu sebelum tanam.
Gunakan 15-20 ton pupuk kompos atau pupuk kandang sebagai pupuk dasar. Tebarkan pupuk di atas bedengan dan aduk dengan tanah hingga merata. Bisa juga ditambahkan urea, ZA, SP-36 dan KCL sebanyak 47 kg, 100 kg, 311 kg dan 56 kg setiap hektarnya. Campur pupuk buatan tersebut sebelum diaplikasikan. Biarkan selama satu minggu sebelum bedengan ditanami. Siapkan benih atau umbi bawang merah yang siap tanam. Apabila umur umbi masih kurang dari 2 bulan, lakukan pemotesan terlebih dahulu. Pemotesan adalah pemotongan bagian ujung umbi, sekitar 0,5 cm. Fungsinya untuk memecahkan masa dorman dan mempercepat tumbuhnya tananaman.
Jarak tanam untuk budidaya bawang merah pada saat musim kemarau dipadatkan hingga 15×15 cm. Sedangkan pada musim hujan setidaknya dibuat hingga 20×20 cm. Benih bawang merah ditanam dengan cara membenamkan seluruh bagian umbi kedalam tanah. Penyiraman pada budidaya bawang merah hendaknya dilakukan sehari dua kali setiap pagi dan sore. Setidaknya hingga tanaman berumur 10 hari. Setelah itu, frekuensi penyiraman bisa dikurangi hingga satu hari sekali.
Pemupukan susulan diberikan setelah tanaman bawang merah berumur 2 minggu. Jenis pupuk terdiri dari campuran urea, ZA, dan KCl yang diaduk rata. Komposisi masing-masing pupuk sebanyak 93 kg, 200 kg dan 112 kg untuk setiap hektarnya. Pemupukan susulan selanjutnya diberikan pada minggu ke-5 dengan komposisi urea, ZA, KCl sebanyak 47 kg, 100 kg, 56 kg per hektar. Pemupukan diberikan dengan membuat garitan disamping tanaman.
Penyiangan gulma biasanya dilakukan sebanyak dua kali dalam satu musim tanam. Untuk menghemat biaya, lakukan penyiangan bersamaan dengan pemberian pupuk susulan. Namun apabila serangan gulma menghebat, segera lakukan penyiangan tanpa menunggu pemberian pupuk susulan.
Budidaya bawang merah mempunyai banyak jenis hama dan penyakit. Namun yang paling sering menyerang di sentra-sentra produksi adalah hama ulat dan penyakit layu. Hama ulat (Spodoptera sp.) menyerang daun, gejalanya terlihat bercak putih pada daun. Bila daun diteropong terlihat seperti gigitan ulat. Hama ini ditanggulangi dengan pemungutan manual, ulat dan telur diambil untuk dimusnahkan. Bisa juga dengan menggunakan feromon sex perangkap, gunakan sebanyak 40 buah per hektar. Bila serangan menghebat, kerusakan lebih dari 5% per rumpun daun, semprot dengan insektisida yang berbahan aktif klorfirifos.
Penyakit layu fusarium, disebabkan oleh cendawan. Gejalanya daun menguning dan seperti terpilin. Bagian pangkal batang membusuk. Penanganannya dengan mencabut tanaman yang mati kemudian membakarnya. Penyemprotan bisa menggunakan fungsida.
Ciri-ciri budidaya bawang merah siap panen apabila 60-70% daun sudah mulai rebah. Atau, lakukan pemeriksaan umbi secara acak. Khusus untuk pembenihan umbi, tingkat kerebahan harus mencapai lebih dari 90%. Budidaya bawang merah biasanya sudah bisa dipanen setelah 55-70 hari sejak tanam. Produktivitas bawang merah dangat bervariasi tergantung dari kondisi lahan, iklim, cuaca dan varietas. Di Indonesia, produktivitas budidaya bawang merah berkisar 3-12 ton per hektar dengan rata-rata nasional 9,47 ton per hektar. Umbi bawang merah yang telah dipanen harus dikeringkan terlebih dahulu. Penjemuran penjemuran bisa berlangsung hingga 7-14 hari. Pembalikan dilakuan setiap 2-3 hari. Bawang yang telah kering, kadar air 85%, siap untuk disimpan atau dipasarkan. ( Oleh, Syahrinaldi, SP, Penyuluh Pertanian pada BPPKP Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau)

Jumat, 16 Januari 2015

PENGENDALIAN HAMA DENGAN MENGGUNAKAN PERANGKAP HORMON



Dinas  Pertanian Kehutanan dan Peternakan Provinsi Kepulauan Riau mengadakan kegiatan pelatihan teknik pengendalian hama Lalat Buah dengan menggunakan perangkap hormon metil eugenol. Kegiatan ini  dilakukan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada kelompok tani  agar kelompok tani terampil dalam mengendalikan hama Lalat Buah secara ramah lingkungan .
Pengendalian hama Lalat Buah ini dilakukan dengan menggunakan perangkap hormon dan tidak menggunakan pestisida kimia jadi aman bagi lingkungan. Cukup banyak anggota kelompok tani yang hadir dalam pelatihan tersebut. Pelatihan  teknik pengendalian hama Lalat Buah dengan menggunakan perangkap hormon  ini dilaksanakan di sei Jeram Desa Lancang Kuning Kecamatan Bintan Utara Kabupaten Bintan. Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 15 Oktober  2014 yang lalu.
Dalam kegiatan pelatihan  teknik pengendalian hama Lalat Buah dengan menggunakan perangkap hormon  ini pihak penyelenggara mendatangkan narasumber dari BPTP Provinsi Riau , turut hadir juga penyuluh pertanian dari BPPKP Kabupaten Bintan , sedangkan para pesertanya berasal dari kelompok tani  -  kelompok tani yang ada di Desa Lancang Kuning Kecamatan Bintan Utara Kabupaten Bintan.  Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan pelatihan ini ada sekitar 25 orang.
Perangkap adalah tempat atau alat yang digunakan untuk menangkap hama yang diberi umpan. Pengendalian hama yang ramah lingkungan dapat dikendalikan dengan pengendalian fisik dan mekanik. Salah satu pengendalian fisik dapat dilakukan dengan cara penggunaan lampu perangkap, sedangkan pengendalian mekanik dapat dilakukan dengan memasang perangkap yang diberi zat-zat kimia yang dapat menarik atau warna, aroma makanan atau bau tertentu.
Perangkap aroma, Misalnya aroma metil eugenol.  Metil Eugenol merupakan atraktan yang sering digunakan untuk mengendalikan lalat buah . Zat ini bersifat volatile atau menguap dan melepaskan aroma wangi dengan radius mencapai 20-100 m, tetapi jika dibantu oleh angin jangkauan bisa mencapai 3 km. Atraktan sintetik sudah banyak beredar dipasaran tetapi harganya cukup  mahal, dapat menimbulkan iritasi pada kulit, dan belum tentu berhasil dalam pengaplikasiannya. Selain dari bahan kimia sintetik, metil eugenol juga dapat dibuat secara langsung dari beberapa tanaman seperti  tanaman cengkeh, kayu putih, daun wangi, dan selasih .
 Serangga tertentu juga lebih tertarik terhadap warna yang disukai serangga biasanya warna-warna kontras seperti kuning cerah, selain itu juga perangkap hama bisa menggunakan hormon penarik lawan jenisnya dalam satu species yang dikenal dengan feromon.
Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan perangkap adalah sebagai berikut,  ukuran atau jenis serangga yang akan ditangkap kebiasaan keluar siang atau malam hari, Stadium perkembangan serangga, makanan kesukaannnya, warna kesukaannya, kekuatan atau kemampuan hama untuk berinteraksi terhadapa jerat dan cara terbang hama.
Aroma atau bau tertentu juga dapat menarik perhatian serangga. Mereka tertarik pada aroma yang dikeluarkan lawan jenisnya dengan zat tertentu saat akan melakukan kawin. Dengan mengetahui sifat serangga seperti itu maka telah dikembangkan perangkap aroma dengan menggunakan atraktan. Atraktan merupakan bahan pemikat yaitu suatu bahan kimia dimana bahan aktifnya bersifat memikat jasad sasaran yang biasanya khusus untuk serangga tertentu. Penggunaan perangkap aroma merupakan perangkap yang paling banyak digunakan petani terutama untuk pengendalian serangga lalat buah baik pada cabai, mangga dan lain-lain. Contohnya adalah Methyl eugenol  yang dapat digunakan sebagai sex feromon untuk menarik perhatian serangga lalat buah pada cabai.
Lalat buah merupakan hama yang sangat merugikan di bidang hortikultura, yang dapat menurunkan produktivitas buah-buahan dan sayuran buah segar di dalam negeri. Pengendalian yang dilakukan pada umumnya adalah dengan pembungkusan buah-buahan ataupun pemberonjongan pohonnya dengan kasa, pengasapan untuk mengusir lalat buah, penyemprotan dengan insektisida, pemadatan tanah di bawah pohon untuk memutus siklus hidup serta penggunaan atraktan (zat pemikat) yang salah satunya berbahan methyl eugenol.
Penggunaan atraktan metil eugenol merupakan cara pengendalian yang ramah lingkungan dan telah terbukti efektif. Atraktan dapat digunakan untuk mengendalikan hama lalat buah dalam tiga cara yaitu : (1) Mendeteksi atau memonitor populasi lalat buah, (2) menarik lalat buah untuk kemudian dibunuh dengan perangkap, dan (3) mengacaukan lalat buah dalam perkawinan, berkumpul dan cara makan. Atraktan merupakan zat yang bersifat menarik , mengandung bahan aktif metil eugenol.
Bahan- bahan yang diperlukan untuk membuat alat perangkap Lalat Buah adalah, (1) Botol plastik bekas yang nanti kita gunakan sebagai perangkap lalat buah, (2) Kawat / tali, (3) Kapas / kain, (4) Paku atau pisau untuk melubangi botol, (5) Petrogenol dengan bahan aktif methyl eugenol  Sebagai umpan, (6) Air.
Cara membuatnya adalah, Buat lubang pada botol seukuran lalat buah, Buat lubang juga pada tutup botol untuk memasukan kawat, Masukan kawat pada lubang tutup botol, pada bagian bawah kawat diberi kapas atau kain, sedangkan dibagian atas dibuat lilitan, sehingga lilitan kapas/kain akan menggantung ditengah-tengah botol, Isi botol dengan air sebanyak 1/4  bagian, Oleskan kapas dengan Petrogenol sebagai pengikat lalat buah jantan, Gantung pada lokasi yang banyak lalat buah. Selamat mencoba...!! (Oleh Syahrinaldi, BPPKP Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau ).