Jumat, 05 Juli 2019

Menanam Tebu di Lahan Kering





Di Indonesia, tanaman tebu (Saccharum officinarum) merupakan bahan utama untuk membuat gula pasir yang dibutuhkan sebagian besar masyarakat. Pada umumnya tanaman tebu ditanam pada lahan sawah dengan pengairan yang baik. Dalam dua dasawarsa terakhir, penanaman bergeser dari lahan sawah ke lahan kering (tegalan).

Hal itu disebabkan antara lain lahan berpengairan diutamakan untuk produksi pangan, lahan sawah berubah peruntukan menjadi bangunan, dan lahan sawah berpengairan lebih menguntungkan ditanami tanaman lain dari pada tanaman tebu.

Teknologi penanaman tebu di lahan kering perlu memperhatikan ketersediaan air hujan, persiapan lahan, pengolahan tanah dan penanaman tebu pada lahan kering seperti berikut.

Persiapan lahan
Dalam mempersiapkan lahan kering untuk ditanami tebu, pertama harus dapat memperkirakan awal musim kemarau dan awal musim hujan. Hal ini diperoleh dari mempelajari sifat iklim selama 5 - 10 tahun terakhir di wilayah yang akan ditanami tebu.

Sedangkan lahan kering yang dapat ditanami tebu antara lain: bekas perkebunan, padang alang-alang, padang rumput, lebak, dan lahan tegalan. Seperti di daerah Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur telah menanam tebu pada lahan kering bekas perkebunan ubikayu.

Membuka lahan kering untuk ditanami tebu dapat menggunakan peralatan berat atau ringan asal sesuai dengan kondisi lahan. Peralatan tersebut untuk membersihkan lahan dari tanaman tahunan, alang-alang atau rumput, dan lainnya sampai bersih dari sisa-sisa tanaman sebelumnya. Penting untuk diperhatikan, bahwa lapisan tanah bagian atas yang paling subur harus dijaga agar jangan sampai hilang terbuang atau hanyut kebawa air hujan. Persiapan lahan ini dapat dilakukan pada musim kemarau atau musim hujan, karena waktu pengolahan tanah yang tepat adalah segera setelah musim hujan selesai atau awal musim kemarau.

Pengolahan tanah
Setelah lahan kering bersih, lalu dilakukan pengolahan tanah agar pertumbuhan tebu baik dan produktivitasnya maksimal. Tahap pertama pengolahan tanah menggunakan bajak untuk memotong dan membalik tanah, dan kemudian dilanjutkan dengan garu untuk menggemburkan tanah. Setelah tanah selesai diolah kemudian dibuat kairan (alur tanaman). Khusus untuk tanah yang mempunyai lapisan kedap air, pembuatan kairan harus lebih dalam dari kedalaman lapisan kedap air.

Tahap pertama pengolahan tanah menggunakan bajak untuk memotong dan membalik tanah, dan kemudian dilanjutkan dengan garu untuk menggemburkan tanah. Setelah tanah selesai diolah kemudian dibuat kairan. Untuk mendapatkan hasil olahan tanah yang baik yaitu cukup dalam dan gembur, tanah harus dalam keadaan cukup air (tidak basah dan tidak terlalu kering). Berdasarkan hal ini maka saat yang tepat untuk mengolah tanah adalah segera setelah musim hujan selesai atau awal musim kemarau. Pada umumnya lahan kering berukuran sempit, maka tenaga untuk pengolahan tanah yang murah dan efektif adalah dengan menggunakan traktor.

Kemudian pengolahan tanah mengikuti kaidah konservasi lahan, yaitu:
Kemiringan lahan 0 - 5% menggunakan teras datar, kemiringan lahan >5 - 12% menggunakan teras kredit/teras gulud, dan kemiringan lahan >15 - 25% menggunakan teras bangku. Sedangkan jarak kairan antara 0,95 - 1,25 m, untuk lahan semakin miring, subur dan basah jaraknya semakin sempit. Panjangnya kairan kira-kira 50 m atau melihat kondisi. Kemudian jarak pusat ke pusat (PKP) di lahan miring adalah 1,10 m atau 1,30 m.

Apabila terjadi kemarau panjang (lebih dari 6 bulan), maka pengolahan tanah harus dalam dan tanaman perlu diberi mulsa. Bagi tanah yang pH nya sangat asam, perlu dinetralkan dengan memberi dolomite atau kapur, terutama untuk jenis tanah podzolik.

Penanaman
Penanaman tebu pada lahan kering diperlukan bibit varietas tebu yang memiliki sifat-sifat, antara lain: tahan kekeringan, mudah berkecambah, cepat beranak, jangka waktu keluar anakan yang agak panjang dan bertunas banyak, tahan kepras yang baik, rendemen tinggi, mudah diklentek, dan tahan roboh. Varietas-varietas unggul tebu untuk lahan kering yang dilepas oleh P3GI (1990) antara lain PS 77-1381, PS 77-1553, PS 78-561, PS 79-1497, PS 80-1070. Untuk mengetahui varietas yang mana yang paling cocok untuk suatu daerah, dapat dilakukan dengan mengadakan percobaan adaptasi tanaman terlebih dahulu.

Saat penanaman tebu, kondisi tanah dikehendaki lembab tapi tidak terlalu basah dan cuaca cerah. Untuk saat ini tanam tebu lahan kering yang paling tepat adalah masa pancaroba yakni akhir musim kemarau sampai awal musim hujan atau sebaliknya. Untuk daerah kering (tipe iklim C dan D Schimdt-Fergusson) saat tanam adalah antara pertengahan Oktober-Desember, sedang pada daerah basah (tipe iklim B) adalah awal musim kemarau.

Pada daerah dengan musim kemarau panjang (daerah kering) tebu ditanam sebagai bibit stek mata tiga dengan jumlah 8-9 mata tunas per meter juringan (15.000-20.000 stek per hektar) atau pada prinsipnya mengarah pada jumlah mata tumbuh 40.000-45.000 per hektar. Stek tebu diletakkan pada dasar juringan dengan jarak tanam 1,25-1,35 m. Pada daerah dengan musim kemarau pendek, digunakan stek 3 mata ditanam, bersentuh ujung (end to end) atau tumpang tindih (overlapped 20 %) pada dasar juringan yang dangkal. Pada keadaan yang mendesak dan kekurangan tenaga dapat dipakai tebu lonjoran dengan 5-6 mata, dipotong menjadi dua. (Oleh : Syahrinaldi, DKPP Kab. Bintan, Kepulauan Riau) Sumber : cybex pertanian.go.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar