Sabtu, 13 Juli 2019

Meningkatkan Produktifitas Tanaman Lada




Lada merupakan salah satu rempah yang akan terus dibutuhkan oleh semua orang. Komoditas ini pun menguntungkan semua aspek masyarakat, dari petani, penjual, hingga negara yang memperoleh devisa dari kegiatan ekspor buah lada. Oleh karenanya, perlu tindakan penanaman atau pembudidayaan lada serta penanganan dan pengolahannya, baik saat panen maupun pasca panen, yang baik dan tepat. Lada yang dihasilkan negara kita dikenal dengan dua jenis, yaitu lada hitam dan lada putih.

Berdasarkan data ditjenbun (2016) bahwa luas areal perkebunan rakyat (PR) tanaman Lada 167.586 ha dengan produksi 81.499 ton. Produksi perkebunan rakyat yang sangat besar menyumbang dari luas areal nasional 167.590 ha dengan produksi 81.501 ton. Volume ekspor lada nasional pada tahun 2015 sebesar 58.075 ton dengan nilai 548.193 US dollar. Begitu besar hasil lada sebagai penyumbang devisa negara harus dapat ditingkatkan.

Peningkatan kualitas dan kuantitas dapat dilakukan bila petani Lada berubah dalam melaksanakan usahataninya. Petani Lada banyak yang belum mendapatkan hasil yang optimal. Rataan produktivitas dan mutu Lada yang masih rendah. Produktivitas Lada yang dihasilkan saat ini masih kurang dari potensi produksinya yang bisa mencapai lebih besar.

Produktivitas Lada yang rendah disebabkan oleh: (1) pemahaman petani yang rendah; (2) pemeliharaan tanaman yang kurang dilakukan; (3) bibit yang kurang baik; (4) pemupukan tidak tepat waktu dan jumlah; (5) serangan penyakit busuk pangkal batang; (6) adapun hal lainnya disebabkan sebagian petani belum mengetahui inovasi pemanfaatan zeolit dan kompos dalam mengendalikan penyakit busuk pangkal batang; (7) ketidakpahaman petani pembuatan drainase yang baik sehingga mencegah pertumbuhan jamur saat musim penghujan.

Inovasi teknologi Balitbangtan telah banyak dihasilkan untuk meningkatkan
  produktivitas dan mutu biji Lada diantaranya, yaitu: (1) varietas unggul produksi tinggi; (2) pemupukan spesifik lokasi; (3) pengendalian HPT; (4) inovasi pengendalian penyakit busuk pangkal batang. Perlu upaya penderasan diseminasi inovasi teknologi pertanian agar dapat secepatnya diadopsi oleh petani Lada. Upaya terobosan harus dilakukan untuk mempercepat pemecahan masalah petani sehingga produktivitas dan produksi di suatu wilayah meningkat. Inovasi teknologi harus dapat disebarkan pada masyarakat khususnya petani secara luas. Untuk itu, diseminasi perlu dilakukan dengan berbagai cara dan saluran diharapkan cepat diterima oleh pengguna.

Adapun beberapa langkah dalam pengembangan Lada adalah yang diharapkan petani dapat menerapkan dalam usahatani maupun lingkungannya adalah:
(a) Intensifikasi kebun, dengan menggunakan bibit unggul dengan teknik perbanyakan lada stek satu buku;
(b) memupuk sesuai rekomendasi, dan mengendalikan organisme pengganggu;
(c) Peningkatan upaya pengendalian penyakit busuk pangkal batang;
(d) Perbaikan mutu produksi sesuai dengan tuntutan pasar;
(e) Pengembangan industri pengolahan hasil mulai dari hulu sampai hilir, sesuai dengan kebutuhan;

Upaya untuk membantu memberikan dorongan semangat dalam percepatan langkah pengembangan Lada memerlukan koordinasi berbagai pihak. Koordinasi akan memberikan keterpaduan langkah baik instansi pertanian di wilayah kerjanya maupun petani dalam upaya meningkatkan produksi dan produktivitas petani. Hal lain yang perlu dilakukan, yaitu: identifikasi masalah, perumusan kebutuhan teknologi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan di daerah sentra produksi Lada. Sehingga terdapat kebijakan yang cepat dan tepat yang dapat diambil oleh daerah.

Adapun strategi diseminasi perlu dilakukan dengan berbagai cara dan berbagai tingkatan untuk mendukung percepatan penggunaan inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian oleh petani sehingga tujuan peningkatan produksi Lada dapat dicapai. Adapun beberapa hal yang dapat dilakukan dalam mendesiminasikan inovasi teknologi sebagai upaya peningkatan adopsi inovasi teknologi pertanian, yaitu:

1. Seluruh pemangku kepentingan dapat dilakukan focus group discussion di daerah agar dapat diketahui secara spesifik kebutuhan penerapan inovasi teknologi sehingga dapat ditentukan inovasi teknologi apa yang akan didiseninasikan.
2. Dinas Pertanian, BPTP dapat bekerjasama dalam sosialisasi dan advokasi.
3. Penyebarluasan berbagai media diseminasi. Adapun materi diseminasi disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah di sentra produksi Lada.
4. Pelaksanaan sekolah lapang melalui demplot sebagai media penyampaian secara langsung inovasi teknologi budidaya (pemupukan, pemangkasan, sanitasi, pengendalian OPT dan pasca panen Lada). (Oleh : Syahrinaldi, DKPP Kab. Bintan, Kepulauan Riau) Sumber : cybex pertanian.go.id 

1 komentar:

  1. numpang promote ya min ^^

    bosan tidak tahu harus mengerjakan apa ^^
    daripada begong saja, ayo segera bergabung dengan kami di
    F*A*N*S*P*O*K*E*R cara bermainnya gampang kok hanya dengan minimal deposit 10.000
    ayo tunggu apa lagi buruan daftar di agen kami ^^
    || WA : +855964283802 || LINE : +855964283802 ||

    BalasHapus