Kamis, 04 Juli 2019

Panen dan Pasca Panen Cabai Rawit





Pengertian panen adalah kegiatan memetik hasil dari tanaman cabai rawit yang telah mencukupi umur fisiologisnya. Kegiatan memetik/ memanen cabai rawit yang telah siap panen sesuai persyaratan yang telah ditentukan untuk memperoleh hasil sesuai dengan persyaratan yang diminta pasar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada kegiatan panen adalah sebagai berikut : (a).pemanenan dilakukan pada umur panen yang tepat untuk menghasilkan mutu yang baik.; (b). Pemanenan dilakukan dengan cara yang tidak menurunkan hasil; (c). Hasil panen dilakukan secara hati-hati;

 (d). Alat dan wadah yang digunakan untuk panen dalam keadaan baik, bersih, bebas kontaminasi serta bukan bekas pestisida/ pupuk/ serta mudah dibersihkan; (e). Hasil panen cabai rawit tidak boleh dicampur dengan cabai yang busuk atau terkena penyakit. Pada saat panen, buah cabai rawit yang rusak sebaiknya disingkirkan, kemudian cabai rawit yang baik dimasukkan ke dalam karung jala dan apabila akan disimpan dapat diletakkan di tempat kering, sejuk dengan sirkulasi udara yang baik.

Agar memberikan hasil yang terbaik, perlu diketahui waktu panen, sebaiknya panen dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07.00 - 10.00 atau sore hari karena cahaya sinar matahari tidak terlalu panas. tetapi untuk pertanaman di pekarangan dapat dilakukan sesuai keperluannya. Waktu panen juga tergantung dari lamanya tanaman terkena sinar matahari, semakin lama tanaman dikenai sinar matahari maka semakin cepat waktu panennya. Demikian pula lamanya musim penghujan, dapat memperlambat waktu panen. Dan kekurangan unsur hara juga akan memperlambat waktu panen tiba. Pada umumnya waktu panen rata-rata setelah berumur 2,5 bulan sampai 3 bulan sesudah disemai. Panenan berikutnya dapat dilakukan 1 - 2 minggu tergantung dari kesehatan dan kesuburan tanaman. Cabai rawit bila dirawat dapat mencapai umur 1-2 tahun, apabila selalu diadakan pemangkasan dan pemupukan kembali setelah tanaman dipanen.

 Pemupukan kembali dapat dilakukan dengan  memberikan pupuk organik seperti kompos maupun pupuk kandang yang sudah menjadi tanah. Cara penetuan waktu panen antara lain sebagai berikut panen dilakukan pada buah yang tingkat kemasakanya sudah mencapai antara 80 -90%, kecuali panen saat muda untuk produk cabe hijau tentu dilakukan pada saat kemasakan antara 50-60 % dan dilakukan pada pagi hari setelah embunnya mengering. Sortasi dilakukan sekaligus dilahan, pisahkan yang rusak / cacat/ bekas terkena serangan OPT. Panen kedua dan seterusnya dilakukan 2-3 hari sesudahnya

Alat panen yang dipergunakan pada umumnya menggunakan pisau atau gunting kecil untuk memotong bagian tangkai cabai rawit. Kemudian sebagai wadah dapat digunakan keranjang kayu, rotan, maupun karung jala yang terlebih dahulu diberi alas dan diletakkan ditempat yang teduh.

Pasca panen cabai rawit
Pada kegiatan pasca panen Cabe yang disimpan dengan suhu sekitar 4 o C dengan kelembaban (RH) 95% sampai dengan 98 % dapat tahan sekitar 4 minggu dan pada kondisi penyimpanan dengan temperatur 10 o C cabai rawit masih dalam keadaan baik sampai dengan 16 hari.
  Penyimpanan cabai rawit segar dengan cara biasa waktunya tidak akan lama, tetapi kalau dikeringkan maka daya simpannya akan lebih lama.
Cabai yang akan dikeringkan harus dipilih yang berkualitas baik, hal tersebut ditandai dengan cabai yang berisi dan segar, kemudian tangkai cabai dibuang lalu cabai dicuci bersih. Kemudian dimasukkan dalam air panas beberapa menit, lalu didinginkan dengan cara dicelupkan dalam air dingin. Selanjutnya ditiriskan di atas anyaman bambu atau kawat kasa sehingga airnya keluar semua. Setelah ditiriskan kemudian cabai rawit dijemur pada panas matahari sampai kering, biasanya kurang lebih selama satu minggu.

Pada musim hujan , pengeringan cabai rawit dapat menggunakan pemanas. Di dalam ruangan pemanas tersebut diberi para-para beberapa lapis untuk meletakkan cabai rawit. Lapisan cabai rawit jangan terlalu tebal, cukup satu lapis agar cepat kering. Sebagai sumber panas dapat memakai lampu listrik , kompor, tungku arang atau bahan lainnya.

Ruangan pemanas dapat dibuat dari kayu yang berbentuk seperti almari dan bagian dalam diberi lapisan seng. Sumber pemanas diletakkan di bawah almari yang telah diberi lubang, di dalam pemanas ada para-para beberapa lapis. Bagian atas almari diberi ventilasi yang penutupnya dapat diatur besar kecilnya lubang untuk mengatur suhu dalam almari. Suhu dalam almari diatur lebih kurang 60oC, jangan terlalu panas dengan mengatur ventilasi. Apabila temperatur telah melebihi 60oC maka lubang ventilasi dibuka lebar.

Supaya cabai rawit keringnya merata maka para-para bisa diubah letaknya, misalnya bagian atas di pindah ke bawah demikian sebaliknya. Banyaknya para-para tergantung besar kecilnya almari dan jarak antar para-para sekitar 15-20 cm. Kemudian cabai rawit dibolak-balik letaknya setiap 3 jam.

Dengan menggunakan alat pemanas paling lama dua hari cabai rawit akan kering. Cabai rawit dianggap kering bila kandungan airnya atau kadar air sekitar 8 %. Dalam keadaan demikian cabai rawit dapat disimpan lebih lama, namun harus dihindarkan dari serangan hama dan disimpan dalam wadah kedap udara. Cabai rawit yang dikeringkan dapat langsung dipakai atau dapat digunakan untuk campuran saos dan cabai bubuk.

Kemasan Cabai Rawit
Sebelum cabai rawit dijual sebaiknya dilakukan seleksi dengan memisahkan cabai rawit yang bagus dan yang jelek kualitasnya. Cabai -cabai tersebut harus dikemas dengan baik agar tidak rusak. Dengan kemasan yang baik tentu akan menambah biaya namun kerusakan akan jauh lebih sedikit sehingga keuntungan masih lebih tinggi.

Buah cabe dapat dikemas dengan kantung plastik yang telah diberi lubang-lubang kecil dengan jarak antara lubang sekitar 5 cm sampai dengan 10 cm. setiap kantung plastik dapat diisi cabai rawit dengan berat 0,5 kg; 1 kg; 1,5 kg atau 2 kg. Selanjutnya kantung plastik diletakkan pada wadah yang dibuat dari bambu atau kardus. Ukuran wadah sebaiknya tidak terlalu besar yaitu antara 10 x 25 x 25 cm sampai dengan 35 x 50 x 40 cm. Setiap sisi wadah diberi lubang dengan garis tengah 1 cm dan jarak antar lubang 10 cm. (Oleh : Syahrinaldi, DKPP Kab. Bintan, Kepulauan Riau) Sumber : cybex pertanian.go.id 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar