Sabtu, 13 Juli 2019

Meningkatkan Produksi Ubi Kayu




Ubikayu merupakan sumber utama karbohidrat setelah padi dan jagung. Selain digemari masyarakat karena dapat dijadikan sebagai bahan baku beraneka macam kuliner, tanaman ini juga memiliki daya adaptasi pada lingkungan tumbuh yang lebih baik dibanding tanaman pangan yang lain. Kemampuan adaptasi yang baik tersebut menyebabkan ubikayu dapat tumbuh dan menghasilkan biarpun diusahakan pada lahan sub-optimal maupun marjinal.

Namun demikian, hingga saat ini produktivitas ubikayu di Indonesia masih terbilang rendah, jauh dari potensi yang tersedia. Rendahnya produktivitas ubikayu ini disebabkan banyak hal diantaranya: (a).Sebagian besar petani masih menggunakan varietas lokal yang umumnya produktivitasnya rendah, (b).Kualitas bibit yang digunakan seringkali kurang baik, (c).Ubikayu sebagian besar diusahakan di lahan kering yang kesuburannya lebih rendah dibanding lahan sawah, (d).Pengelolaan tanaman dilakukan secara sederhana dengan masukan (input) sekedarnya.

Untuk mewujudkan program pemerintah yaitu terciptanya diversifikasi pangan sehingga masyarakat tidak lagi memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap beras maka perlu upaya bersama dari pihak-pihak yang terkait. Caranya, dengan meningkatkan produksi ubi kayu melalui optimalisasi potensi yang ada.

Secara umum, peningkatan produksi ubikayu dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara. Pertama, melalui peningkatan produktivitas (intensifikasi), terutama pada daerah-daerah sentra produksi yang sudah ada. Kedua, melakukan perluasan areal tanam (ekstensifikasi) ke daerah pengembangan baru di lahan kering dan lahan tidur.
1.Intensifikasi. Cara intensifikasi dapat dilakukan dengan berbagai langkah: a).Varietas unggul baru (VUB). Cara ini merupakan langkah yang sangat strategis dalam upaya meningkatkan produksi ubikayu karena berkaitan dengan potensi hasil yang tinggi.

VUB yang mempunyai karakter sesuai kebutuhan dan preferensi pengguna juga relatif mudah diterima petani, dan kompatibel dengan komponen teknologi budidaya lain. Badan Litbang Pertanian telah melepas tidak kurang dari 10 varietas unggul ubikayu. Dibandingkan dengan komoditas pangan lainnya, pelepasan varietas unggul ubikayu di Indonesia masih tertinggal atau lambat, sebab selama ini di samping komoditas ubi kayu belum memperoleh prioritas, juga karena umur panennya relatif panjang (8-10 bulan).

 Ubikayu varietas UJ-5 dan UJ-3 misalnya, yang mempunyai hasil dan kadar pati yang tinggi telah berkembang secara luas, sebagai bahan baku industri tepung dan pati; b). Teknologi Budidaya pendukung. Selain varietas, teknologi budidaya pendukung akan membantu masing-masing varietas untuk menghasilkan sesuai dengan potensinya: b1). Jarak tanam. Pengaturan jarak tanam atau populasi tanaman per hektar merupakan komponen teknologi yang paling pertama dulu mendapat perhatian para petani, sebab komponen tersebut selain mudah dipahami dan diterapkan petani, juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman.

Jarak tanam ubi kayu yang sesuai sangat ditentukan antara lain oleh sistem tanam, pola pertumbuhan tanaman dan tingkat kesuburan lahan. Pada sistem monokultur, penanaman ubikayu dapat dilakukan pada jarak tanam 100 cm x 100 cm atau 100 cm x 80 cm. Ubikayu dengan pola percabangan di bawah (misal varietas Darul Hidayah) umumnya ditanam dengan jarak yang lebih lebar (125 cm x 125 cm). Pada tanah yang kurang subur, untuk mendapatkan hasil yang tinggi per satuan luas, ubikayu dapat ditanam dengan jarak tanam yang lebih rapat. Dengan cara ini, meskipun hasil per tanaman lebih sedikit tapi karena populasinya tinggi hasil umbi per satuan luas menjadi lebih tinggi pula;

b2).Pemupukan. Ubikayu memiliki adaptasi pada lingkungan tumbuh yang lebih baik dibanding tanaman pangan lain. Kemampuan yang baik menyebabkan ia dapat tumbuh dan menghasilkan biarpun pada lahan sub-optimal maupun marjinal. Jumlah hara yang diambil untuk setiap ton umbi yang dihasilkan adalah lebih kurang 6,5 kg N, 2,24 P205 dan 4,32 kg K20. Hara yang terangkut dari dalam tanah tersebut perlu diganti melalui tindakan pemupukan organik dan anorganik. Oleh karena itu dalam jangka panjang produktivitasnya juga akan cepat menurun apabila tidak disertai pemupukan yang seimbang dengan hara yang diekstraksi.

Untuk memperoleh hasil ubikayu tetap tinggi pemupukan sangat diperlukan, mengingat tanaman ini banyak dibudidayakan pada lahan yang tanahnya mempunyai kesuburan sedang sampai rendah. Pada tanah Alfisol Bantur misalnya, yang kandungan bahan organiknya rendah, pemberian pupuk kandang dengan takaran 3 dan 6 ton/ha dapat meningkatkan hasil ubikayu semakin sulit dan mahal untuk mendapatkan dan membeli pupuk anorganik. Sehubungan dengan ini maka usahatani integrasi ternak?tanaman akan semakin strategis untuk membantu petani dalam menyediakan pupuk organik.

2. Ekstensifikasi. Pada saat sekarang luas panen ubikayu berkisar antara 1,2 - 1,5 juta hektar, sementara lahan kering berupa lahan tegalan, lahan ladang maupun yang sementara belum dimanfaatkan di seluruh Indonesia masih sangat luas. Di beberapa daerah sentra produksi ubikayu-pun indeks pertanaman belum optimal dan masih terdapat lahan-lahan tidur yang belum dimanfaatkan untuk pengembangan ubikayu.
Lahan Ultisol, Inceptisol dan Alfisol yang mendominasi sentra produksi ubikayu dan belum diusahakan (merupakan lahan tidur berupa padang alang-alang) sangat potensial sebagai daerah pengembangan ubikayu, terutama pada daerah beriklim basah.

Selain secara khusus mengembangkan ubikayu pada lahan yang baru, peningkatan luas areal tanam/panen ubikayu juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan-lahan pada perkebunan/hutan industri yang tanaman utamanya masih berumur 1-3 tahun. Misalnya, ubikayu diusahakan pada perkebunan karet/kelapa sawit muda. Atau, ditanam di bawah naungan hutan jati muda. Selain itu, ubikayu bisa juga ditanam secara tumpangsari dengan tanaman pangan lain seperti padi gogo, jagung, kacang-kacangan atau sayuran.

Cara yang tidak kalah efektifnya adalah penggunaan lahan sawah tadah hujan di daerah industri pengolahan ubikayu sehingga diharapkan disamping produksi ubikayunya meningkat sekaligus juga pendapatan dan kesejahteraan petaninya menjadi terangkat. (Oleh : Syahrinaldi, DKPP Kab. Bintan, Kepulauan Riau) Sumber : cybex pertanian.go.id 

1 komentar:

  1. numpang promote ya min ^^

    bosan tidak tahu harus mengerjakan apa ^^
    daripada begong saja, ayo segera bergabung dengan kami di
    F*A*N*S*P*O*K*E*R cara bermainnya gampang kok hanya dengan minimal deposit 10.000
    ayo tunggu apa lagi buruan daftar di agen kami ^^
    || WA : +855964283802 || LINE : +855964283802 ||

    BalasHapus