Minggu, 07 Juli 2019

Petani Lada Mengantisipasi Perubahan Iklim



 
Iklim merupakan sesuatu yang manusia tidak dapat kendalikan. Bagaikan dua sisi mata uang, di sisi satu adalah musim hujan dan di sisi lainnya musim kemarau memberikan dampak positif dan negatif pada petani yang sama maupun dalam kawasan yang berbeda. Iklim di Sulawesi Tenggara memberikan dampak pada produksi maupun produktivitas tanaman, khususnya Lada. Produksi Lada saat ini cenderung berkurang disebabkan berbagai macam faktor penyebab. Perubahan iklim memberikan kontribusi pada terjadinya penurunan produksi tanaman.

Tanaman rentan dengan perubahan iklim, salah satunya adalah dampak serangan organisme penganggu tanaman. Perubahan iklim membuat siklus hidup organisme penganggu tanaman ikut berubah. Pada musim penghujan, curah hujan yang tinggi dan terus-menerus memberikan dampak adanya genangan di sekitar penanaman Lada.Tanaman Lada sangat rentan dengan Penyakit busuk pangkal batang. Penyakit ini memiliki pola penyebaran yang sangat cepat akibat adanya genangan air hujan pada sekitar tanaman lada.

Di sisi lain, pada musim kemarau tanaman lada mengalami pertumbuhan yag terhambat dan menjadi kering. Pada musim hujan di salah satu sentra lada propinsi Sulawesi Tenggara, yaitu Desa Simbune kebun lada yang berdekatan dengan sungai terendam banjir. Hal ini menyebabkan tanaman lada banyak yang terserang penyakit busuk pangkal batang.  Penyakit busuk pangkal batang berdampak negatif pada tanaman lada. Penyakit busuk pangkal batang dapat menyebabkan tanaman menjadi mati. Percikan air hujan membantu menyebarkan patogen pada tanaman lainnya.

Pada musim penghujan, kelembapan udara di lokasi tanaman lada sudah cukup tinggi. Pada kelembapan yang tinggi mendukung perkembangan penyakit dengan suburnya spora jamur. Faktor pendukung lainnya kelembapan mempermudah jamur untuk menginfeksi tumbuhan.  Curah hujan yang tinggi mempengaruhi kelembaban. Kelembaban mempengaruhi tahap awal dan perkembangan penyakit. kelembaban mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap perkecambahan spora jamur dan penetrasi inang oleh tabung kecambah. Kelembaban juga mengaktivasi jamur yang selanjutnya dapat menginfeksi tumbuhan.

 Sejalan dengan ini, Agrios (1996) mengemukakan bahwa tingkat serangan penyakit sangat tinggi ketika dalam kelembapan udara yang tinggi. Selain kelembapan udara yang tinggi, faktor lainnya adalah angin. Mayasari dan Suroso (2014) mengemukakan bahwa angin mempercepat penyebaran penyakit. Musim penghujan akan mengakibatkan humus di permukaan tanah terbawa air.  Di sisi lain pada tahun 2014, desa Simbune mengalaimi musim kemarau panjang. El nino menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi tidak optimal.

Pertumbuhan lada akan terganggu bila curah hujan < 60 mm/bulan. Untuk itu petani lada di desa Simbune melakukan berbagai usaha dan langkah-langkah untuk meminimalisir dampak tanaman iklim pada usaha tani mereka seperti:  Langkah pertama petani merubah waktu tanam tanaman lada. Pada umumnya petani desa Simbune dan Lawonua biasa menanam lada pada bulan maret hingga Juli dan bulan Februari hingga bulan Agustus. Petani melakukan penanaman pohon gamal pada musim kemarau sebagai sarana tiang atau panjatan untuk tanaman Lada.

 Pada musim kemarau gamal tumbuh dengan sangat baik bila dibandingkan ditanam pada musim hujan.Langkah kedua dengan menggunakan infus bambu pada musim kemarau. Infus bambu merupakan salah satu teknik mensiasati tanaman lada agar tidak merana. Hal ini penting untuk mencegah terhambatnya pertumbuhan tanaman dan mencegah tanaman yang masih muda mati akibat kekeringan. Cara pembuatan dengan menggunakan bahan bambu. Pilih bambu berukuran besar, kemudian dipotong menjadi 3 ruas.

Kemudian buat lubang pada buku-bukunya, kecuali buku yang paling bawah bambu. Pengecualian dilakukan agar dapat menampung air. Langkah berikutnya bambu ditempatkan sejajar dengan tanaman denga jarak ? 5-10 cm dari batang tanaman. Lakukan pengontrolahn air pada bambu.Langkah ketiga dengan melakukan pencegahan penyakit busuk pangkal batang dan menggunakan bubur Bordo untuk perlindungan penyakit. Pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan varietas yang tahan jamur, menggunakan bibit dari tanaman yang sehat serta pengolahan lahan yang benar.

Untuk pelindungan penyakit dengan melakukan pengendalian secara kimiawi. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi penyakit busuk pangkal batang. Bubur bordo merupakan fungisida kimiawi sistemik. Bubur digunakan pada saat musim penghujan. Hal ini disebabkan pada tingkat kelembapan yang tinggi penyakit busuk pangkal batang dapat berkembang biak dengan cepat dan menimbulkan kerugian pada tanaman yang cukup besar. Cara penggunaan bubur bordo dengan mengaplikasikan pada tanaman lada yang telah terinfeksi penyakit busuk pangkal batang dengan cara disiram pada pangkal batang.

 Setelah diaplikasikan pada waktu 2 minggu lalu berikan agen hayati. Setelah itu lakukan pembersihan lahan dan pemangkasan tajar serta pemeliharaan saliran drainase. Penelitian Manohara dkk (2013) dalam Endah (2015) menyebutkan bubur bordo dibuat dengan campuran 100 gram terusi (CuSO4), 100 gram kapur dalam 5 liter air.  Langkah keempat dengan membuat parit di sekitar tempat-tempat utama yang di sekitar tanaman yang biasa tergenang air. Parit dibuat sebelum musim hujan agar tidak terjadi genangan air di kebun sehingga dapat meminimalisir dampak penyebaran penyakit busuk pangkal batang. (Oleh : Syahrinaldi, DKPP Kab. Bintan, Kepulauan Riau) Sumber : cybex pertanian.go.id 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar