Selasa, 02 Juli 2019

Penyakit Pada Tanaman Pisang




Buah pisang dengan penampilan bersih, ranum dan mulus akan menarik minat konsumen terutama yang lebih mengutamakan kualitas. Sebaliknya penampilan buah yang kusam, berbintik, berkeropeng dan bahkan daging buah lengket dengan kulitnya sangat menurunkan daya beli konsumen. Kerusakan buah tersebut jika dicermati disebabkan oleh gangguan hama/penyakit yang menyerang buah pisang sejak muda.

Penyakit Layu Fusarium
Penyakit Layu Fusarium atau penyakit Panama disebabkan cendawan yaitu Fusarium Oxysporum f. Sp Cubense (FOC), merupakan penyakit sangat merusak dan paling berbahaya yang menyerang pertanaman pisang di seluruh dunia, sukar dikendalikan, mudah berpindah dan mampu bertahan di dalam tanah dalam jangka waktu yang cukup lama. Penyakit ini menular lewat tanah, menyerang akar dan masuk bonggol tanaman. Di dalam bonggol, cendawan tumbuh dan merusak sistem pembuluh sehingga menyebabkan tanaman layu dan akhirnya mati.

Adapun gejala penyakit adalah:
1) terjadi penguningan pada daun tua dimulai dari pinggir daun, penguningan berlanjut ke daun yang lebih muda, daun yang terserang berwarna kuning, akhirnya patah; 2) pecah batang, perubahan warna pada saluran pembuluh; 3) perubahan bentuk dan ukuran daun-daun yang baru muncul, yaitu pemendekan ruas daun; 4) perubahan warna pada bonggol; dan 5) batang yang terserang mengeluarkan bau busuk.

Seperti diketahui penyakit layu fusarium termasuk penyakit yang menular lewat tanah sehingga sangat mudah menular melalui bibit, tanah, air, pupuk kandang atau alat-alat pertanian. Jika cendawan terbawa oleh aliran air atau mencemari irigasi, penyakit bisa menyebar sangat cepat dan membinasakan pertanaman dalam tempo bulanan.

Penyakit layu Fusarium ini tidak dapat diobati, melainkan hanya dapat dicegah penularannya dengan cara sebagai berikut :

1) melakukan eradikasi atau pemusnahan dengan membasmi sumber bibit penyakit (tanaman sakit), apabila ada tanaman pisang yang terserang di kebun, dibongkar dan dibakar tanaman pisang yang sakit tersebut atau dilakukan penyuntikan menggunakan Round Up dengan takaran 12 cc untuk tanaman induk, 2,5 cc untuk anakan berumur 4-6 bulan (tinggi 50-100 cm) danh 1 cc untuk anakan berumur kurang dari 4 bulan (tinggi <50 cm). Siram tanah bekas tanaman pisang tersebut dengan fungisida;

2) penggunaan varietas tahan/ bebas penyakit yaitu bibit yang diambil dari lahan yang diyakini bebas dari penyakit layu fusarium (FOC), penanaman lebih dari satu varietas atau melakukan pergiliran tanaman juga dapat menekan perkembangan penyakit, melakukan penggenangan dan pergiliran tanaman;

3) jangan memasukkan bonggol, anakan atau bibit dan tanah dari daerah yang sudah terinfeksi penyakit layu Fusarium;

 4) Gunakan bibit bebas penyakit (hasil kultur jaringan). Bibit pisang yang berasal dari kultur jaringan adalah salah satu bibit pisang yang bebas penyakit dan ini hanya dapat bertahan bila pada lahan tidak ada bibit penyakit Layu Fusarium;

5) melakukan sanitasi lahan yaitu membersihkan gulma seperti rumput teki dan bayam-bayaman karena merupakan inang sementara bibit penyakit layu fusarium (FOC);


6) melakukan pengamatan cepat keberadaan FOC. Pada lahan yang akan ditanami pisang terutama lahan baru sebaiknya dilihat terlebih dahulu ada atau tidaknya FOC. Caranya, ambil tanah dari lahan yang akan digunakan sebagai lahan pertanaman pisang, masukkan ke dalam kantong atau ember plastik setinggi 25 cm. Campurkan kompos kotoran ayam dengan perbandingan 2 bagian kompos kotoran ayam dan 8 bagian tanah. Biarkan 15 hari, lalu tanamkan anakan rebung pisang yang tidak tahan terhadap FOC (ambon kuning), kemudian amati selama 3 bulan. Bila lahan tersebuit tercemar oleh FOC, pisang yang ditanam akan segera memperlihatkan gejala penyakit layu fusarium,

 7) alat-alat pertanian yang digunakan selalu disucihamakan/disterilkan seperti pisau, parang atau golok dengan desinfektan misalnya menggunakan bayclean atau alkohol, sedangkan alat pertanian lainnya seperti pacul, sekop dan lain-lain selalu dicuci dengan sabun dan disterilkan terutama ketika alat digunakan secara berpindah-pindah antar kebun;

8) Pengendalian (pencegahan) dengan fungisida lebih efektif dilakukan dengan penaburan dari pada dengan penyiraman;

9) menanam jenis pisang yang tahan terhadap FOC seperti ketan, tanduk, raja kinalun/pisang perancis dan muli;
10) pemakaian agensi hayati seperti Trichoderma sp, Gliocladium sp dan Pseudomonas fluorescens yang prinsipnya bersifat pencegahan, digunakan pada saat tanam atau dimasukkan pada lubang tanam . (Oleh : Syahrinaldi, DKPP Kab. Bintan , Kepulauan Riau ) Sumber : cybex pertanian.go.id .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar