Sabtu, 06 Juli 2019

Pertanian Konservasi Pada Tanaman Jagung




Jagung adalah komoditas utama dalam usahatani di beberapa provinsi di Indonesia terutama daerah-daerah yang curah hujannya minim atau daerah kering seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo. Khusus provinsi Nusa Tenggara Timur dan Gorontalo, jagung berperan sebagai sumber pangan (food security) bagi sebagian penduduk yang juga sebagian besarnya berprofesi sebagai petani. Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat yang dikenal kering dan berbatu kini percaya diri mematok target sebagai lumbung jagung nasional seperti provinsi Gorontalo.

Tekstur tanah keras dan berbatu karang bercurah hujan minim bukan menjadi halangan, justru merupakan modal menyelesaikan berbagai tantangan dan masalah lokal. Untuk memperbaiki sistem usahatani sebagai sumber pendapatan dan sumber perbaikan ekonomi rumah tangga petani di lahan kering adalah meningkatkan mutu pengelolaan usahatani tersebut antara lain dengan melakukan pertanian konservasi. Pertanian konservasi merupakan suatu upaya untuk mencapai pertanian berkelanjutan dan memperbaiki mata pencaharian melalui peningkatan hasil pertanian dengan mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah dan menjaga kelestarian lingkungan. Metode ini diperkenalkan di Indonesia dalam 2 dua) tahun terakhir oleh Perwakilan FAO Indonesia, Pemerintah Daerah setempat dan LSM lokal.

Prinsip Pertanian Konservasi
Pertanian konservasi adalah pendekatan peningkatan produktivitas pertanian disertai upaya peningkatan kualitas sumberdaya lahan, air, tanaman, serta lingkungan biotik lainnya sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani dan menjaga kelestarian lingkungan.

Terdapat 3 pilar prinsip konservasi pertanian, yaitu :
a. Pengolahan tanah terbatas
Tanah tidak diolah sama sekali untuk menghindarkan kerusakan struktur tanah dan kehilangan organisme tanah. Jika sangat diperlukan dilakukan pengolahan tanah secara terbatas misalnya dengan membuat lubang tanam atau rorak tanam permanen. Juga dengan penggemburan tanah secara terbatas dengan membuat alur tanam (ripping).
b. Penutupan permukaan tanah secara permanen
Permukaan tanah diupayakan selalu tertutup baik dengan tajuk tanaman utama, tajuk tanaman tumpang sari, tanaman penutup tanah dan sisa tanaman sebagai mulsa.
c. Pergiliran tanaman
Diupayakan selalu dilakukan pergantian tanaman dengan jenis legume sebagai upaya memperbaiki kesuburan tanah dan manfaat lainnya.

Jagung Tanaman Utama
Inti metode pertanian konservasi adalah petani mengolah tanah yang minim, menutup permukaan tanah dengan serasah atau tanaman rambat, merotasi jenis tanaman dan menggunakan pupuk kompos buatan sendiri. Tanah kering dan keras diubah jadi lubang media tanam. Caranya bermacam-macam sesuai kemampuan petani. Bisa dengan lubang 30x30x30 cm, membuat parit atau membuat alur tanam. Cekungan itu lalu diisi campuran pupuk kompos dan pupuk kandang 3-4 kg per lubang. Lubang dan parit yang tidak lagi dibuat setiap musim tanam itu jadi semacam penjebak dan penyimpan unsur hara.

 Sementara itu penanaman kacang-kacangan di antara tanaman jagung berfungsi sebagai tanaman penutup yang menahan penguapan air dan menjaga agar permukaan tanah tidak tumbuh rumput. Akar kacang-kacangan bersimbiose dengan bakteri rhizobium menghasilkan nitrogen sehingga menyuburkan media tanam. Metoda ini diperkenalkan di Indonesia dua tahun terakhir oleh FAO bersama pemerintah daerah dan LSM lokal dengan melakukan 237 demplot di provinsi NTT dan NTB dengan melibatkan 4.907 petani.

 Hasil perbandingan panen pada demplot dan kontrol (cara konvensional) menunjukkan hasil mencengangkan, peningkatan produksi mencapai lebih dari 2 (dua) kali lipat per ha yaitu 2 ton/ha menjadi rata-rata 4,5 ton/ha. Hal lain yang diperoleh dari pertanian konservasi adalah petani mendapat bonus panen berbagai jenis kacang-kacangan. Ini menambah gizi dan penghasilan petani usai panen sebagai komoditi utama

Mengubah Pola Pikir
Dengan pertanian konservasi, petani mengubah pola pikir yang umumnya menyiapkan lahan penanaman dengan cara membakar. Selain polusi asap dan melepas emisi, pembakaran lahan pun merusak tekstur tanah dan struktur tanah. Lewat pemanfaatan pupuk kandang, warga tidak lagi membiarkan ternaknya berkeliaran dan melintas di jalan seperti di provinsi Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Ternak dikandangkan atau diikat agar kotorannya bisa dikumpulkan dengan mudah untuk pupuk atau bio gas. Setelah panen sisa tanaman jagung maupun kacang-kacangan tidak lagi dikumpulkan. Sampah-sampah organik ini ditaruh di atas permukaan tanah untuk mempertebal tutupan biomassa. Perawatan selanjutnya menambahkan pupuk organik. (Oleh : Syahrinaldi, DKPP Kab. Bintan, Kepulauan Riau ) Sumber : cybex pertanian.go.id 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar